BI Sebut Pelemahan Rupiah Tak Terlalu Mengkhawatirkan
Jum'at, 13 Maret 2015 - 14:54 WIB
BI Sebut Pelemahan Rupiah Tak Terlalu Mengkhawatirkan
A
A
A
JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menyebut bahwa pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) tidak terlalu mengkhawatirkan lantaran tidak seburuk beberapa negara di dunia, terutama Brazil.
Dia mengungkapkan, Brazil, Turki, dan Malaysia mengalami pelemahan mata uang yang lebih buruk dibanding Indonesia.
"Brazil tahun lalu terdepresiasi 12,5% dan tahun ini 17% year to date (ytd). Turki tahun lalu terdepresiasi 8% dan tahun ini 12% ytd. Malaysia tahun lalu 6% ytd dan tahun ini 6% ytd. Sebetulnya Indonesia 1,8% tahun lalu dan 6% tahun ini, tidak buruk," ujarnya di Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat (13/3/2015).
Mantan Menteri Keuangan tersebut mengatakan bahwa tidak perlu khawatir pada angka depresiasi nilai tukar rupiah sebesar 6% saat ini. Pasalnya, USD menguat terhadap semua mata uang negara di dunia.
"Kalau lihat konteks ini, rupiah tidak terlalu mengkhawatirkan, kenapa? Karena sekarang ada kecenderungan dunia, di mana USD menguat terhadap semua mata uang," jelas Agus.
Secara umum, dia, menilai melemahnya nilai tukar rupiah merupakan imbas dari rencana Federal Reserve (The Fed) yang akan menaikan suku bunganya pada pertengahan tahun ini, sehingga BI mempersiapkan hal tersebut.
"Secara umum ada penguatan USDdan ada kecenderungan Fed fund rate akan tinggi karena akan dinaikkan Juni atau Juli dari saat ini sekitar 0,25%, akan dinaikkan antara 0,5% hingga 1%. Pada 2016 diperkirakan akan naik lagi antara 2%-2,5%," pungkasnya.
Dia mengungkapkan, Brazil, Turki, dan Malaysia mengalami pelemahan mata uang yang lebih buruk dibanding Indonesia.
"Brazil tahun lalu terdepresiasi 12,5% dan tahun ini 17% year to date (ytd). Turki tahun lalu terdepresiasi 8% dan tahun ini 12% ytd. Malaysia tahun lalu 6% ytd dan tahun ini 6% ytd. Sebetulnya Indonesia 1,8% tahun lalu dan 6% tahun ini, tidak buruk," ujarnya di Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat (13/3/2015).
Mantan Menteri Keuangan tersebut mengatakan bahwa tidak perlu khawatir pada angka depresiasi nilai tukar rupiah sebesar 6% saat ini. Pasalnya, USD menguat terhadap semua mata uang negara di dunia.
"Kalau lihat konteks ini, rupiah tidak terlalu mengkhawatirkan, kenapa? Karena sekarang ada kecenderungan dunia, di mana USD menguat terhadap semua mata uang," jelas Agus.
Secara umum, dia, menilai melemahnya nilai tukar rupiah merupakan imbas dari rencana Federal Reserve (The Fed) yang akan menaikan suku bunganya pada pertengahan tahun ini, sehingga BI mempersiapkan hal tersebut.
"Secara umum ada penguatan USDdan ada kecenderungan Fed fund rate akan tinggi karena akan dinaikkan Juni atau Juli dari saat ini sekitar 0,25%, akan dinaikkan antara 0,5% hingga 1%. Pada 2016 diperkirakan akan naik lagi antara 2%-2,5%," pungkasnya.
(rna)
Lihat Juga :