HT: Pelemahan Rupiah Perburuk Kesenjangan Sosial

Minggu, 15 Maret 2015 - 07:56 WIB
HT: Pelemahan Rupiah...
HT: Pelemahan Rupiah Perburuk Kesenjangan Sosial
A A A
JAKARTA - Ketua Umum Partai Perindo, Hary Tanoesoedibjo (HT) mengemukakan, kesenjangan semakin lebar dengan adanya pelemahan rupiah terhadap dolar AS (USD). Untuk itu, butuh langkah cepat dan tepat guna memperbaiki perekonomian Indonesia.

“Dulu kita impor barang-barang mewah. Tapi sekarang kita impor bahan-bahan pokok. Ketika dolar (USD) naik masyarakat bawah yang paling merasakan dampaknya,” ujar HT dalam dialog kebangsaan bersama para jajaran pengurus Himpunan Pengusaha Profesional Kristen Indonesia (HIPPKI), di DPP Partai Perindo, Jakarta, Sabtu (14/3/2015).

Seperti diketahui, Jumat (14/3) berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI), nilai rupiah mencapai Rp13.191 per USD. Sekadar catatan, nilai tersebut pernah terjadi di awal Agustus 1998 dimana rupiah bergerak di kisaran Rp13.000 per USD.

“Pelemahan rupiah menyebabkan kesenjangan semakin melebar sebab biaya untuk memenuhi kebutuhan semakin tinggi. Ambil kebijakan yang cepat dan tepat, kembalikan kepercayaan pasar,” kata HT.

Struktur Perekonomian

HT menjelaskan saat ini kesenjangan Indonesia pada puncak tertinggi dalam 20 tahun terakhir. Hal ini terlihat dari gini ratio saat ini di atas 0,41. Rasio gini adalah parameter kesenjangan sosial. Semakin tinggi nilai rasio tersebut, semakin Indonesia mengalami ketimpangan. “Makro kita mengalami pertumbuhan. Tapi lihat bagaimana distribusinya,” kata CEO MNC Group ini.

HT menambahkan saat ini pertumbuhan ekonomi dinikmati masyarakat menengah-atas. Namun tidak dengan masyarakat bawah. Sebab belum ada kebijakan konkret dari pemerintah yang bisa meningkatkan produktivitas masyarakat bawah.

Contohnya usaha mikro yang sulit untuk memperoleh modal. Selain itu bungannya pun jauh lebih tinggi dibanding korporasi. Begitu juga untuk pertanian dan nelayan.

“Seharusnya usaha mikro diberi kemudahan akses. Diperlukan bank khusus untuk UMKM beri bunga murah sekitar 4%-5%,” kata HT.

Sebagai gambaran saat ini bunga pinjaman kredit korporasi sekitar 12%-13%. Sedangkan untuk bunga untuk kredit mikro berkisar 20%-25%.

Mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat bawah, maka akan semakin banyak penggerak ekonomi. Dengan begitu pertumbuhan ekonomi bisa melesat di kisaran 8%-9%, dibandingkan saat ini yang berkisar 5,3% - 5,5%.

HT mengatakan, diperlukan konsep dalam perekonomian Indonesia. Ada berbagai hal yang harus dibenahi. “Di negeri yang sangat kaya ini, cadangan devisa kita sangat kecil, hanya sekitar USD100 miliar,” kata HT.

Sebagai informasi, per Februari 2015 cadangan devisa Indonesia sebesar USD115,5 miliar. Pembenahan di sektor pendidikan baik pendidikan formal maupun keterampilan dibutuhkan. Selain itu pemangkasan birokrasi dan korupsi. Juga kepastian hukum dibutuhkan. Dengan pembenahan hal-hal tersebut perekonomian Indonesia bisa melaju lebih kencang.

“Untuk melakukan pembenahan dibutuhkan kebijakan yang tepat. Untuk itu Partai Perindo hadir, memenangkan Pemilu dan membuat kebijakan yang tepat untuk masyarakat bawah,” tandasnya.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
HT Tegaskan Sulsel dan...
HT Tegaskan Sulsel dan Sumut Harus Jadi Lumbung Suara Partai Perindo
Apresiasi Natal Nasional...
Apresiasi Natal Nasional 2023 di Surabaya Sukses, HT: Ramai Sekali
Harapan Hary Tanoe di...
Harapan Hary Tanoe di HUT Soulyu
Hadiri Peresmian Kantor...
Hadiri Peresmian Kantor MPN Pemuda Pancasila, Hary Tanoesoedibjo: Semakin Bermanfaat bagi Bangsa Indonesia
HT: Semoga PP Makin...
HT: Semoga PP Makin Berkibar
Visi Misi Perindo Jelas,...
Visi Misi Perindo Jelas, Membangun Indonesia Sejahtera
Berita Terkini
Relevansi Jadi Kunci...
Relevansi Jadi Kunci Utama Membangun Kekuatan Merek di Era Digital
7 jam yang lalu
Eropa Mulai Terbelah,...
Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
7 jam yang lalu
GAPKI Tegaskan Industri...
GAPKI Tegaskan Industri Sawit RI Terapkan Standar Keselamatan Kerja Berkelanjutan
8 jam yang lalu
Arus Kas ETF Bitcoin...
Arus Kas ETF Bitcoin Tembus Rp1,36 Triliun di Pertengahan Juli 2026
8 jam yang lalu
Airlangga Bocorkan Lahan...
Airlangga Bocorkan Lahan BUMN di Bali Jadi Opsi Calon Lokasi PFII
9 jam yang lalu
Soal Pindar, KPPU Didorong...
Soal Pindar, KPPU Didorong Utamakan Tindakan Pencegahan
9 jam yang lalu
Infografis
7 Dosa Kebijakan Nicolas...
7 Dosa Kebijakan Nicolas Maduro: Akar Kehancuran Ekonomi dan Sosial Venezuela
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved