ADB Nilai Reformasi Struktural Jokowi Kerek Ekonomi RI

Selasa, 24 Maret 2015 - 11:34 WIB
ADB Nilai Reformasi...
ADB Nilai Reformasi Struktural Jokowi Kerek Ekonomi RI
A A A
JAKARTA - Asian Development Bank (ADB) menilai reformasi struktural yang dilakukan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mampu mengerek ekonomi Indonesia hingga dua tahun mendatang. Karena itu, pemerintah sebaiknya tetap mempertahankan momentum reformasi struktural seperti pengurangan subsidi bahan bakar.

Deputy Country Director ADB Indonesia Edimon Ginting mengatakan, saat ini pemerintah telah memulai reformasi kebijakan untuk memperbaiki iklim investasi. Sebab itu, pemerintah perlu melanjutkan reformasi ini dengan mengeluarkan kebijakan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur, mengurangi biaya logistik dan memperkuat proses implementasi anggaran.

"Kebijakan ini memang terdapat sejumlah risiko, baik internal seperti pendapatan yang lebih rendah, dan eskternal seperti potensi melemahnya pertumbuhan mitra perdagangan utama serta kenaikan suku bunga Amerika Serikat," ujarnya di Hotel Intercontinental, Jakarta, Selasa (24/3/2015).

Dalam laporan terbarunya, ADB memproyeksikan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia akan mencapai 5,5% tahun ini, dan 6% pada 2016. Pada 2014, perekonomian Indonesia tumbuh 5,0%.

Dia mengatakan, reformasi struktural yang dilakukan pemerintah melalui pengurangan subsidi bahan bakar minyak (BBM) sangat berpotensi memperbaiki kondisi fiskal Indonesia. Hal tersebut pun menyebabkan tersedianya sumber daya yang besar untuk dialokasikan ke hal-hal yang lebih produktif, termasuk infrastruktur fisik dan sosial.

"Penghematan tersebut memungkinkan pemerintah untuk menambah alokasi belanja modal 2015 hingga lebih dari dua kali lipat, meningkatkan belanja program pendidikan dan kesehatan, serta menurunkan target defisit fisal menjadi 1,9% dari PDB," tuturnya.

Sementara, faktor-faktor lain adalah rencana untuk menaikkan penerimaan pajak, eksekusi anggaran yang lebih baik, dan reformasi kebijakan untuk mendorong investasi pihak swasta. "Pengeluaran rumah tangga yang cukup besar, serta penurunan tajam angka inflasi juga menjadi pendorongnya," pungkas Edimon.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Bahaya! Deflasi Hantam...
Bahaya! Deflasi Hantam Ekonomi RI 5 Bulan Beruntun
Prabowo Sering Diejek...
Prabowo Sering Diejek karena Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Berita Terkini
Mengintegrasikan AI...
Mengintegrasikan AI Demi Mewujudkan Ekosistem Investasi Mass Market
1 jam yang lalu
UE Putar Haluan Kembali...
UE Putar Haluan Kembali ke Pelukan Rusia, Rogoh Dana Raksasa Rp123 Triliun demi LNG
1 jam yang lalu
Harga MinyaKita Tembus...
Harga MinyaKita Tembus Rp16.000 per Liter di Atas HET, Apa Sebabnya?
2 jam yang lalu
Kimia Farma Siapkan...
Kimia Farma Siapkan Rantai Layanan Hulu-Hilir Percepat Penanggulangan TB
2 jam yang lalu
Esgin dan Agraus Resources...
Esgin dan Agraus Resources Sinergi Garap Potensi Investasi Hijau dan Ekonomi Karbon
2 jam yang lalu
Kasus Hukum Febrie Momentum...
Kasus Hukum Febrie Momentum Audit Menyeluruh Tata Kelola Sawit Sitaan Negara
4 jam yang lalu
Infografis
Bakar Uang Demi Perang:...
Bakar Uang Demi Perang: Jejak Kelam Ekonomi Militer AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved