Ekonomi China dalam Tekanan

Minggu, 12 April 2015 - 08:06 WIB
Ekonomi China dalam...
Ekonomi China dalam Tekanan
A A A
BEIJING - Perdana Menteri China Li Keqiang mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi negaranya sedang mengalami tekanan. Hal tersebut disampaikan menjelang laporan pertumbuhan ekonomi China pada kuartal pertama.

"Pada saat ini, perekonomian nasional berjalan lancar, namun tekanan ke bawah terus berkembang," ujar Li dalam situs resmi pemerintah China, seperti dilansir dari Reuters, Minggu (12/4/2015).

Li menyerukan mempercepat reformasi di wilayah timur laut, pusat pertambangan dan industri yang telah tertinggal pertumbuhannya. Pemerintah pusat akan menyalurkan lebih banyak dukungan ke wilayah tersebut dengan pembangunan infrastruktur, pertanian dan ekspor peralatan.

Wilayah timur laut China sempat terganggu oleh PHK besar-besaran pada 1990-an, saat pemerintah memaksa pabrik-pabrik BUMN menutup perusahaan secara massal akibat inefisien.

Kini, Li meminta pembangunan proyek-proyek infrastruktur besar di wilayah tersebut di berbagai bidang segera dilakukan, seperti transportasi dan konservasi air dengan dukungan lembaga keuangan.

Wilayah ini menikmati booming ekonomi dalam dekade terakhir karena dukungan dari pemerintah pusat dan meningkatnya permintaan untuk bahan baku dan produk mesin. Namun, kebangkitan telah goyah pada tahun ini seiring pertumbuhan China berada di jalur terendah dalam 24 tahun.

Dalam pernyataan terpisah, Li menyerukan tindakan yang lebih ditargetkan untuk mendukung perekonomian. Dia juga mengintruksikan untuk mempercepat pembangunan konstruksi kereta api (KA). Menurutya kereta api sebagai "arteri utama ekonomi nasional".

China telah mengucurkan dana lebih dari 800 miliar yuan (USD129 miliar) untuk pembangunan kereta api pada 2015. Investasi dalam kereta api merupakan bagian dari upaya pemerintah memacu pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, meskipun terjadi kekhawatiran atas perlambatan pertumbuhan ekonomi China, seorang pejabat senior dari Dana Moneter Internasional (IMF) tetap optimistis terhadap ekonomi terbesar kedua di dunia itu.

Dilansir dari Xinhua, Steven Barnett, kepala divisi Departemen Asia dan Pasifik IMF mengatakan, perlambatan masih bisa membawa manfaat besar bagi China dan ekonomi global.

"Kita harus menyambut, dan tidak perlu takut perlambatan di China karena ekonomi bergerak ke jalur pertumbuhan yang lebih lambat. Tapi itu lebih aman dan lebih berkelanjutan," tandasnya.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Ekonomi China Pulih,...
Ekonomi China Pulih, Tumbuh 4,9 Persen Kuartal III 2020
Krisis Ekonomi China...
Krisis Ekonomi China Pengaruhi Ekspor Impor Dalam Negeri
Gelombang Covid-19 Kembali...
Gelombang Covid-19 Kembali Hantam Ekonomi Tiongkok
Menteri Keuangan Waspadai...
Menteri Keuangan Waspadai Situasi Kontraksi Ekonomi China
Momen Unik saat Presiden...
Momen Unik saat Presiden Prabowo Bicara Bahasa Tiongkok di Beijing
China Rebound, Bidik...
China Rebound, Bidik Pertumbuhan Ekonomi di Atas 6%
Berita Terkini
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
52 menit yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
1 jam yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
1 jam yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
2 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
2 jam yang lalu
BRI Life Ungkap Peran...
BRI Life Ungkap Peran Mitra Stategis Selama 4 Dekade
3 jam yang lalu
Infografis
Bakar Uang Demi Perang:...
Bakar Uang Demi Perang: Jejak Kelam Ekonomi Militer AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved