Ketegangan di Timteng Mereda, Minyak Global Turun
Rabu, 22 April 2015 - 10:00 WIB
Ketegangan di Timteng Mereda, Minyak Global Turun
A
A
A
SINGAPURA - Harga minyak global memperpanjang penurunan pada hari ini karena meredanya ketegangan Timur Tengah (Timteng) setelah Arab Saudi mengakhiri operasi militer di Yaman.
Hal itu ditambah data industri, yang menunjukkan bahwa persedian minyak Amerika Serikat (AS) melampaui perkiraan.
Arab Saudi mengumumkan mengakhiri kampanye serangan udara terhadap pemberontak Houthi, yang merebut wilayah besar Yaman. Ini meredakan ketegangan geopolitik di kawasan tersebut.
Harga minyak telah meningkat hampir USD10/barel sepanjang bulan ini dipicu ketegangan di Timur Tengah dan kekhawatiran atas perlambatan pertumbuhan produksi minyak di AS.
"Kita mungkin akan melihat lebih dari satu peurunan pada kuartal II, namun harga mungkin tidak akan berada di bawah posisi terendah tahun ini," kata perusahaan minyak terbesar di dunia, Vitol seperti dilansir dari Reuters, Rabu (22/4/2015).
Minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni turun 28 sen ke USD61,82 per barel pada pukul 09.42, setelah turun USD1,27. Sementara minyak mentah AS untuk pengiriman Juni CLc1 melemah 38 sen menjadi USD56,22/barel. Kontrak Mei, yang berakhir pada hari Selasa berakhir turun USD1,12.
"Momentum jangka pendek mulai berimbas ke komoditas," tulis analis ANZ dalam catatannya.
Persediaan minyak AS telah mencapai tingkat tertinggi sejak 2011 karena kilang di hub Cushing, Oklahoma beroperasi hampir 80%.
Sebuah survei Reuters menunjukkan persediaan minyak mentah AS kemungkinan naik selama 15 pekan berturut-turut, bertambah hampir 3 juta barel minyak pada pekan lalu, setelah pengumuman American Petroleum Institute, yang menyatakan produksi sebanyak 5,5 juta barel.
Adapun data persediaan resmi akan dikeluarkan oleh Administrasi Informasi Energi pada pukul 10.30 WIB, hari ini.
Hal itu ditambah data industri, yang menunjukkan bahwa persedian minyak Amerika Serikat (AS) melampaui perkiraan.
Arab Saudi mengumumkan mengakhiri kampanye serangan udara terhadap pemberontak Houthi, yang merebut wilayah besar Yaman. Ini meredakan ketegangan geopolitik di kawasan tersebut.
Harga minyak telah meningkat hampir USD10/barel sepanjang bulan ini dipicu ketegangan di Timur Tengah dan kekhawatiran atas perlambatan pertumbuhan produksi minyak di AS.
"Kita mungkin akan melihat lebih dari satu peurunan pada kuartal II, namun harga mungkin tidak akan berada di bawah posisi terendah tahun ini," kata perusahaan minyak terbesar di dunia, Vitol seperti dilansir dari Reuters, Rabu (22/4/2015).
Minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni turun 28 sen ke USD61,82 per barel pada pukul 09.42, setelah turun USD1,27. Sementara minyak mentah AS untuk pengiriman Juni CLc1 melemah 38 sen menjadi USD56,22/barel. Kontrak Mei, yang berakhir pada hari Selasa berakhir turun USD1,12.
"Momentum jangka pendek mulai berimbas ke komoditas," tulis analis ANZ dalam catatannya.
Persediaan minyak AS telah mencapai tingkat tertinggi sejak 2011 karena kilang di hub Cushing, Oklahoma beroperasi hampir 80%.
Sebuah survei Reuters menunjukkan persediaan minyak mentah AS kemungkinan naik selama 15 pekan berturut-turut, bertambah hampir 3 juta barel minyak pada pekan lalu, setelah pengumuman American Petroleum Institute, yang menyatakan produksi sebanyak 5,5 juta barel.
Adapun data persediaan resmi akan dikeluarkan oleh Administrasi Informasi Energi pada pukul 10.30 WIB, hari ini.
(rna)
Lihat Juga :