Roadmad Pariwisata Belum Jelas

Rabu, 22 April 2015 - 11:27 WIB
Roadmad Pariwisata Belum...
Roadmad Pariwisata Belum Jelas
A A A
JAKARTA - Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menyatakan, belum ada suatu peta jalan (roadmap) yang jelas terkait strategi pengembangan sektor pariwisata dalam lima tahun ke depan.

Padahal dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2015-2019, pemerintah menargetkan jumlah kunjungan wisatawan asing mencapai 20 juta orang. ”Jika pemerintah tidak melakukan perubahan secara fundamental di sektor pariwisata dan secara aktif melakukan terobosan- terobosan baru, diperkirakan kunjungan wisman pada 2019 hanya akan mencapai 14 juta orang,” ujar Direktur Eksekutif CORE Hendri Saparini di Jakarta kemarin.

Dia menambahkan, percepatan pertumbuhan sektor pariwisata dapat mengatasi defisit neraca jasa yang menjadi salah pemicu defisit neraca transaksi berjalan Indonesia selama ini. Tetapi, untuk dapat meredam defisit pada neraca jasa, pertumbuhan sektor pariwisata harus didorong lebih cepat, tidak sekadar mengikuti tren pertumbuhan linier seperti yang terjadi selama ini.

Hendri menilai, kebijakan bebas visa bagi 30 negara untuk kunjungan singkat/wisata ke Indonesia sebenarnya merupakan langkah penting untuk meredam pelemahan nilai tukar rupiah. Selain itu, aturan tersebut mendorong pertumbuhan sektor pariwisata yang selama ini masih tertinggal dari negara tetangga di ASEAN.

”Kebijakan ini diharapkan dapat menarik lebih banyak jumlah wisatawan dari negaranegara tersebut untuk berkunjung ke Indonesia, sehingga dapat mendongkrak penerimaan devisa negara,” ujarnya.

Dia melanjutkan, untuk dapat merespons dinamika dalam bisnis pariwisata secara cepat, efektif dan efisien, pengelolaan pariwisata di Indonesia perlu menggunakan pendekatan bisnis.

Menurut dia, pendekatan secara bisnis perlu diterapkan dengan mendirikan badan pengembangan pariwisata independen yang dikelola secara profesional dan menempatkan pemerintah serta seluruh stakeholder di sektor ini. ”Pendekatan ini akan mendorong program yang lebih inovatif dan lebih responsif terhadap dalam menangkap peluang bisnis pariwisata yang sangat dinamis,” kata dia.

Sementara, Direktur Riset CORE Indonesia Mohammad Faisal mengungkapkan, kebijakan bebas visa merupakan langkah terobosan yang bagus. Namun untuk mendongkrak kinerja sektor pariwisata dan melakukan percepatan pertumbuhan sektor ini secara signifikan, tidak bisa hanya dengan mengandalkan satu kebijakan.

Menurut dia, kebijakan bebas visa juga harus diikuti dengan langkah-langkah lain yang bersifat pro-aktif dan inovatif, melakukan promosi wisata secara gencar. Di samping itu, harus juga diikuti dengan memacu pembangunan infrastruktur khususnya yang berdampak terhadap peningkatan daya saing wisata.

”Indonesia perlu lebih sigap dalam menjaring wisatawan dari pasar-pasar wisatawan di berbagai penjuru,” paparnya.

Kunthi fahmar sandy
(ftr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Daya Saing Indonesia...
Daya Saing Indonesia Turun ke Peringkat 48 Dunia, Kalah dari Malaysia dan Vietnam
14 menit yang lalu
10 Negara dengan Biaya...
10 Negara dengan Biaya Hidup Termahal di Dunia pada 2026, Ada Tetangga Indonesia
1 jam yang lalu
Kawal Transformasi Terintegrasi...
Kawal Transformasi Terintegrasi untuk Perkuat Bio Farma Group
10 jam yang lalu
Pasar Potensial Industri...
Pasar Potensial Industri Pembiayaan, Chailease Finance Dukung Pertumbuhan UKM Bandung
10 jam yang lalu
BPDP Dukung Jakarta...
BPDP Dukung Jakarta Fiscal Forum 2026, Perkuat Kolaborasi untuk Pembangunan Berkelanjutan
10 jam yang lalu
Pertamina Siap Turunkan...
Pertamina Siap Turunkan Harga BBM secara Bertahap Mulai Awal Juli
11 jam yang lalu
Infografis
Wilayahnya Berdekatan,...
Wilayahnya Berdekatan, Negara-negara Ini Belum Serang Israel di 2024
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved