Pemerintah Diminta Perhatikan Potensi Kelas Menengah

Rabu, 22 April 2015 - 19:53 WIB
Pemerintah Diminta Perhatikan...
Pemerintah Diminta Perhatikan Potensi Kelas Menengah
A A A
JAKARTA - Pertumbuhan masyarakat kelas menengah di Indonesia yang pesat menjadi potensi besar produsen asing. Untuk itu, pemerintah diminta memperhatikan secara maksimal potensi tersebut agar dapat membantu perekonomian nasional.

"Jika tidak dapat dimaksimalkan maka hadirnya era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada penghujung tahun ini hanya akan menjadi pasar menggiurkan bagi produk-produk impor yang membanjiri negeri ini," ujar Founder IndoSterling Capital, William Henley di Jakarta, Rabu (22/4/2015).

Saat ini, Indonesia menjadi negara dengan perkembangan kelas menengah terbesar di dunia. Menurutnya, jumlah kelas menengah di Indonesia mengalami perkembangan pesat setelah krisis moneter 1997/1998. Bank Dunia mencatat, pertumbuhan kelas menengah dari 0% pada 1999 menjadi 6,5% pada 2011 menjadi 130 juta jiwa.

"Diperkirakan juga angka tersebut bakal meningkat menjadi 141 juta pada 2030,'' ujar William, yang juga aktif dalam bisnis teknologi digital.

Sebab itu, dia meminta kepada pemerintah, agar tidak peduli pada masalah ini karena pada akhir tahun Indonesia sudah memasuki era MEA.

Hadirnya MEA, menurut William, akan membuat aliran barang dan jasa bisa berjalan secara mudah. Bahkan, Indonesia sudah pasti akan menjadi incaran karena pasarnya yang besar dengan pertumbuhan ekonomi terus meningkat.

''Jika hanya menjadi jajahan pasar, sudah pasti pertumbuhan ekonomi yang dicapai Indonesia tidak akan berkesinambungan. Industri tidak tumbuh, tenaga kerja tidak terserap, hingga minimnya devisa ke kas negara,'' terangnya.

Di samping itu, pertumbuhan ekonomi kelas menengah ternyata juga mendorong tumbuhnya pengguna sosial media di negeri ini. Hingga kini, Indonesia tercatat sebagai pengguna aktif terbanyak untuk Twitter dan Facebook.

Dari total pengguna aktif Twitter secara global sebanyak 284 juta, Indonesia menyumbang angka 50 juta atau hampir 18%. Sementara pengguna aktif Facebook di Indonesia mencapai sekitar 60 juta dan ada di peringkat keempat setelah Amerika Serikat, India, dan Brasil.

''Pasar yang besar ini tentu sangat menarik. Namun, pasar yang besar juga menjadi sebuah pekerjaan rumah besar bagi pemerintah Indonesia. Jika tidak tertangani dengan baik, maka pasar besar Indonesia ini justru akan menggerogoti perekonomian Indonesia,'' pungkasnya.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Jauh dari Resesi, Aktivitas...
Jauh dari Resesi, Aktivitas Ekonomi Indonesia Kuat dan Membaik
Indonesia Dipastikan...
Indonesia Dipastikan Masuk ke Dalam Jurang Resesi Ekonomi
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Digital Indonesia
Ekonomi Indonesia Dibidik...
Ekonomi Indonesia Dibidik Tumbuh 5,4 Persen pada 2026
Ekonomi Indonesia Tumbuh...
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,03 Persen pada 2024
Ekonomi Indonesia Triwulan...
Ekonomi Indonesia Triwulan IV 2024 Tumbuh 5,02%, Sektor Konstruksi dan Industri Dominan
Berita Terkini
Harga Emas Naik 5 Ribu...
Harga Emas Naik 5 Ribu Hari Ini, Termurah Dijual Rp1.370.000
22 menit yang lalu
Lippoland Kembangkan...
Lippoland Kembangkan OAZE sebagai Pusat Kehidupan Baru di Cikarang
42 menit yang lalu
Kuasai 25% Kekayaan...
Kuasai 25% Kekayaan Miliarder AS: 144 Imigran Terkaya Pecahkan Rekor Rp39.261 Triliun
1 jam yang lalu
Jelang Mandatori SAF...
Jelang Mandatori SAF 1% di 2027, Pertamina Patra Niaga Percepat Ekosistem
2 jam yang lalu
Tren Penguatan IHSG...
Tren Penguatan IHSG Lanjut ke 6.346, Transaksi di Awal Sesi Cetak Rp627 Miliar
2 jam yang lalu
AS Gempur Iran 12 Malam...
AS Gempur Iran 12 Malam Beruntun & Houthi Tembak Tanker Saudi, Harga Minyak Dunia Tembus USD96/Barel
3 jam yang lalu
Infografis
Pemerintah Tetapkan...
Pemerintah Tetapkan 25 Hari Libur dan Cuti Bersama di Tahun 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved