China Akan Kurangi Jumlah Perusahaan Negara

Selasa, 28 April 2015 - 09:52 WIB
China Akan Kurangi Jumlah...
China Akan Kurangi Jumlah Perusahaan Negara
A A A
BEIJING - China akan mengurangi jumlah konglomerasi milik pemerintah pusat menjadi 40 melalui merger besar-besaran.

Langkah ini bagian dari rencana pemerintah merombak perusahaan milik negara yang kinerjanya kurang memuaskan. Menurut surat kabar resmi Economic Information Daily, konsolidasi akan dilakukan terlebih dulu di sektor komersial, khususnya di sejumlah industri yang kompetitif. Saat ini pemerintah pusat memiliki 112 konglomerasi, termasuk 277 perusahaan publik yang terdaftar di bursa saham Shanghai atau Shenzhen dengan kapitalisasi pasar lebih dari USD1,61 triliun.

”Sumber daya akan semakin dikonsentrasikan pada perusahaan- perusahaan besar untuk menghindari kompetisi yang saling mematikan, seperti yang dilakukan CSR Corp Ltd dan China CNR Corp Ltd saat bersaing mendapatkan proyek-proyek di luar negeri,” ungkap sumber yang dikutip harian tersebut. Rencana restrukturisasi ini penting bagi upaya Presiden China Xi Jinping meningkatkan kinerja perusahaan milik negara.

Apalagi, saat ini Beijing berjuang untuk mencari kombinasi kebijakan yang tepat untuk mendorong perekonomian negara itu tumbuh lebih baik. Seperti dilaporkan sebelumnya, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I/2015 berada di level terendah dalam enam tahun. Merger antara CNR dan CSR yang merupakan dua produsen kereta terbesar di China, akan menciptakan satu perusahaan bernilai USD26 miliar yang mampu memenangkan berbagai kesepakatan global dari para pesaing seperti Siemens AG dari Jerman dan Bombardier Inc dari Kanada.

”Bisnis non-inti dari perusahaan- perusahaan negara, terutama di industri tersier akan dijual di pasar modal secara terbuka,” ungkap otoritas terkait pada Economic Information Daily. ”Menghindari hilangnya aset-aset negara merupakan hal paling penting dan syarat utama saat merger aset-aset sensitif dilakukan.” Awal bulan ini China berkomitmen meningkatkan pengawasan publik pada kinerja keuangan dan keterbukaan informasi di perusahaan-perusahaan negara, serta perubahan kepemimpinan perusahaan, demi meningkatkan transparansi dan memerangi korupsi.

Sebelumnya dilaporkan, ekonomi China tumbuh 7% year on year (yoy) pada kuartal I/2015 atau melemah ke level baru terendah setelah krisis keuangan global.

Syarifudin
(ars)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Perang AS-Iran Kian...
Perang AS-Iran Kian Sengit, ASEAN Wanti-wanti Krisis Pangan dan Energi
34 menit yang lalu
Garudafood Resmikan...
Garudafood Resmikan Rumah Maggot di Depok, Kelola 100 Ton Sampah Organik Jadi Nilai Ekonomi
43 menit yang lalu
MNC Sekuritas Dukung...
MNC Sekuritas Dukung MNC University dalam Seminar 'Crafting Your Career and Wealth in The Web3 Era'
58 menit yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Regional JBB Manfaatkan Tenaga Surya Tingkatkan Ekonomi Masyarakat
1 jam yang lalu
Bea Cukai Tak Jadi Dibubarkan...
Bea Cukai Tak Jadi Dibubarkan Prabowo, Ini Alasannya
1 jam yang lalu
Zero ODOL Dinilai Jadi...
Zero ODOL Dinilai Jadi Titik Awal Perkuat Keselamatan Transportasi
1 jam yang lalu
Infografis
5 Negara Produsen Jet...
5 Negara Produsen Jet Tempur Terbesar di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved