Pertumbuhan Kuartal I di Bawah 5%

Sabtu, 02 Mei 2015 - 09:42 WIB
Pertumbuhan Kuartal...
Pertumbuhan Kuartal I di Bawah 5%
A A A
JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi kuartal pertama tahun ini diproyeksikan tidak akan menyamai pertumbuhan di periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,21%.

Melihat kinerja sejumlah emiten yang membukukan penurunan laba pada periode Januari-Maret 2015, Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro menilai pertumbuhan ekonomi di kuartal I akan berada di bawah 5%. ”Banyak para pelaku bisnis kita yang berekspektasi tinggi, tapi kemungkinan pergerakan pertumbuhan baru mulai di kuartal II,” ujarnya di Jakarta belum lama ini.

Bambang menambahkan, percepatan pertumbuhan bahkan baru dapat terasa dampaknya di semester kedua. Perlambatan ekonomi pada tiga bulan pertama tahun ini akibat dampak pelemahan ekonomi global serta harga minyak dunia yang rendah.

Pelambatan ekonomi tidak hanya terjadi di Indonesia. Sejumlah negara dengan perekonomian yang baik pun mengalami perlambatan pertumbuhan di bawah perkiraan. ”Standar rendah pertumbuhan China itu 7% dan sekarang mereka berada di angka tersebut, Jepang 0,4%, Korea Selatan 3,2%, dan negara ASEAN lainnya juga relatif di bawah rata-rata,” paparnya.

Terkait dengan itu, pemerintah berharap mulai kuartal II nanti belanja pemerintah yang mulai jalan akan mampu mendorong pertumbuhan. Bambang meyakini efek pengganda dari belanja pemerintah, khususnya di bidang infrastruktur, akan ikut meningkatkan kinerja sektor riil.

Terpisah, Deputi Gubernur Bank Indonesia(BI) Perry Warjiyo mengatakan, kebijakan fiskal akan menjadi mesin pendorong perekonomian dalam negeri hingga tahun depan. Ini berkaca pada perlambatan perekonomian di sepanjang kuartal pertama, khususnya penyaluran kredit perbankan.

”Kredit perbankan melambat karena semua menunggu mulainya proyek infrastruktur. Kita menunggu realisasiKementerian Keuangan untuk meningkatkan penyerapan anggaran. Kuncinya mempercepat belanja modal oleh Kemenkeu dan tidak hanya menunggu pendapatan pajak yang ditargetkan naik,” ungkap Perry dalam acara peluncuran buku Sejarah BI Periode VII 2004-2011 di Semarang baru-baru ini.

Ekonom dari Universitas Diponegoro FX Sugiyanto menilai, pilihan mengandalkan fiskal adalah opsi yang terbaik untuk mendorong pertumbuhan saat ini. Ini karena instrumen moneter tidak dapat diandalkan dalam kondisi moneter ketat sekarang.

Rabia edra/Hafid fuad
(ftr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Relevansi Jadi Kunci...
Relevansi Jadi Kunci Utama Membangun Kekuatan Merek di Era Digital
1 jam yang lalu
Eropa Mulai Terbelah,...
Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
1 jam yang lalu
GAPKI Tegaskan Industri...
GAPKI Tegaskan Industri Sawit RI Terapkan Standar Keselamatan Kerja Berkelanjutan
1 jam yang lalu
Arus Kas ETF Bitcoin...
Arus Kas ETF Bitcoin Tembus Rp1,36 Triliun di Pertengahan Juli 2026
2 jam yang lalu
Airlangga Bocorkan Lahan...
Airlangga Bocorkan Lahan BUMN di Bali Jadi Opsi Calon Lokasi PFII
2 jam yang lalu
Soal Pindar, KPPU Didorong...
Soal Pindar, KPPU Didorong Utamakan Tindakan Pencegahan
3 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Jalan...
10 Negara dengan Jalan Terbaik di Dunia, Juaranya Tetangga Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved