Minyak Dekati Harga Tertinggi Akibat USD Terkoreksi
Rabu, 06 Mei 2015 - 10:44 WIB
Minyak Dekati Harga Tertinggi Akibat USD Terkoreksi
A
A
A
SINGAPURA - Harga minyak dunia naik pada Rabu mendekati harga tertinggi tahun ini didukung terkoreksinya dolar Amerika Serikat (USD) dan gangguan ekspor minyak mentah di Libya.
Tren kenaikan harga minyak mendorong harga minyak pekan ini setelah reli 20-25% sepanjang April, meskipun stok minyak di Amerika Serikat (AS) terus bertambah dan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) mengindikasikan akan mempertahankan produksinya pada laju tertinggi pada pertemuan bulan depan.
Minyak mentah AS untuk pengiriman Juni diperdagangkan naik 43 sen menjadi USD60,90/barel setelah naik di harga tertingginya kemarin sebesar USD61,10.
Minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni naik 32 sen menjadi USD67,87/barel pada pukul 0141 GMT, di bawah rekor tahun ini sebesar USD68,40, kemarin.
"Menguatnya permintaan Eropa telah menjadi katalis utama yang memungkinkan kilang untuk meningkatkan utilisasinya pada kuartal I dan menyerap kelebihan minyak mentah untuk menjaga margin penyulingan tetap kuat," tulis analis di JP Morgan dalam sebuah catatan seperti dikutip dari Reuters, Rabu (6/5/2015).
JP Morgan menaikkan harga rata-rata perkiraan untuk minyak Brent sebesar USD3-USD62/barel dan yang rata-rata tahun depan sebesar USD10-USD72/barel.
Tiga delegasi OPEC menyatakan, reli harga baru-baru ini telah meredam panggilan dari anggota OPEC untuk memangkas pasokan dan mempertahankan tingkat produksi pada pertemuan 5 Juni mendatang.
Produsen Timur Tengah terus berjuang mempertahankan pangsa pasarnya di Asia. Arab Saudi menyatakan, akan mempertahankan harga minyak mentah, dengan harga diskon untuk pembeli Asia pada Juni.
Laporan dari American Petroleum Institute menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah AS turun 1,5 juta barel pekan lalu, kali pertama sepanjang tahun ini. Sementara Administrasi Informasi Energi AS akan mengeluarkan data stok resmi pada Rabu waktu setempat.
Tren kenaikan harga minyak mendorong harga minyak pekan ini setelah reli 20-25% sepanjang April, meskipun stok minyak di Amerika Serikat (AS) terus bertambah dan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) mengindikasikan akan mempertahankan produksinya pada laju tertinggi pada pertemuan bulan depan.
Minyak mentah AS untuk pengiriman Juni diperdagangkan naik 43 sen menjadi USD60,90/barel setelah naik di harga tertingginya kemarin sebesar USD61,10.
Minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni naik 32 sen menjadi USD67,87/barel pada pukul 0141 GMT, di bawah rekor tahun ini sebesar USD68,40, kemarin.
"Menguatnya permintaan Eropa telah menjadi katalis utama yang memungkinkan kilang untuk meningkatkan utilisasinya pada kuartal I dan menyerap kelebihan minyak mentah untuk menjaga margin penyulingan tetap kuat," tulis analis di JP Morgan dalam sebuah catatan seperti dikutip dari Reuters, Rabu (6/5/2015).
JP Morgan menaikkan harga rata-rata perkiraan untuk minyak Brent sebesar USD3-USD62/barel dan yang rata-rata tahun depan sebesar USD10-USD72/barel.
Tiga delegasi OPEC menyatakan, reli harga baru-baru ini telah meredam panggilan dari anggota OPEC untuk memangkas pasokan dan mempertahankan tingkat produksi pada pertemuan 5 Juni mendatang.
Produsen Timur Tengah terus berjuang mempertahankan pangsa pasarnya di Asia. Arab Saudi menyatakan, akan mempertahankan harga minyak mentah, dengan harga diskon untuk pembeli Asia pada Juni.
Laporan dari American Petroleum Institute menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah AS turun 1,5 juta barel pekan lalu, kali pertama sepanjang tahun ini. Sementara Administrasi Informasi Energi AS akan mengeluarkan data stok resmi pada Rabu waktu setempat.
(rna)
Lihat Juga :