Pasar Properti Melambat

Rabu, 06 Mei 2015 - 11:40 WIB
Pasar Properti Melambat
Pasar Properti Melambat
A A A
SECARA umum, pertumbuhan pasar properti di Indonesia cenderung melambat walaupun permintaan masih terus bertambah seiring masalah housing backlog yang telah berlangsung lama.

Hal itu merupakan salah satu hasil property sentiment survey yang dilakukan iProperty Group. Survei online yang dilakukan oleh 5.037 responden selama 1,5 bulan sejak Januari ini secara serentak dilakukan di Indonesia, Malaysia, Hong Kong, dan Singapura.

Mario Gaw, General Manager Rumah123.com, situs properti bagian dari iProperty Group mengatakan, pihaknya secara rutin mengadakan kegiatan ini sebanyak dua kali dalam setahun. “Kami harapkan laporan ini dapat menjadi tambahan referensi bagi pelaku industri properti yang berasal dari sudut pandang konsumen online,” tuturnya di Tee Nine Restaurant & Lounge, Thamrin, Jakarta, 30 April lalu.

Menurut dia, perlambatan pertumbuhan pasar properti yang dihasilkan dalam survei disebabkan sejumlah faktor. Pertama, adanya kebijakan loan to value (LTV) yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia, suku bunga acuan perbankan (BI Rate) yang tinggi, dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). “Ini membuat harga properti tinggi dan penjualan melambat. Namun, sepertinya perlambatan bukan hanya di industri properti, juga di semua sektor, misalnya perbankan, automotif, dan lainnya,” ujar Mario.

Mario mengatakan, perlambatan penjualan properti sudah terjadi sejak pemilihan presiden pada 2014 dan diperkirakan akan pulih kembali setelah berbagai proyek infrastruktur mulai berjalan secara baik di berbagai wilayah. “Sekarang orang lebih berhati-hati membeli properti. Ini terlihat dari pencarian properti yang menurun secara online. Sekarang orang mencari referensi rumah melalui informasi keluarga atau teman,” ujarnya.

Meski begitu, lanjut dia, hasil survei menunjukkan 75% responden masih memercayakan pinjaman bank sebagai sumber kredit properti mereka, walaupun 53% responden juga menganggap berbagai program kredit yang ditawarkan langsung oleh developer merupakan terobosan dan menjadi poin pertimbangan masyarakat untuk mendapatkan properti.

“Lebih dari sebagian responden juga menganggap alokasi dana untuk mengatasi krisis rumah nasional belum efektif, walaupun 61% responden berharap FLPP terus dilanjutkan pada era pemerintahan Jokowi,” katanya.

Sementara itu, survei ini juga mengungkapkan, 67% responden berpikir sudah saatnya kaum urban tinggal di apartemen.

Rendra hanggara
(ftr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Dulu Dijajah Belanda,...
Dulu Dijajah Belanda, Kini Digerus Impor? Mantan Menkeu Ungkap Jurus Jitu Cetak Ekonomi Tumbuh 8%
6 jam yang lalu
Warga India Gila Emas,...
Warga India 'Gila' Emas, Perusahaan Gadai Rusia Bidik Pasar Rp89.038 Triliun
7 jam yang lalu
Asabri Dorong Transformasi...
Asabri Dorong Transformasi Layanan Berbasis ESG, Kepuasan Peserta Capai 96,03%
10 jam yang lalu
Distribusi BBM di Kota...
Distribusi BBM di Kota Medan Makin Lancar, Antrean di SPBU Mulai Normal
10 jam yang lalu
Jebakan Ilusi PDB, Mantan...
Jebakan Ilusi PDB, Mantan Menkeu Fuad Bawazier Ungkap Fakta di Balik Utang RI Rp8.000 Triliun
11 jam yang lalu
AKPY-BPDP Latih Pekebun...
AKPY-BPDP Latih Pekebun Sawit di Paser Tingkatkan Nilai Jual TBS
11 jam yang lalu
Infografis
Membedah Chromebook...
Membedah Chromebook Pilihan Nadiem dan Perbandingannya dengan Pasar
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved