BI Klaim Sudah Antisipasi Perlambatan Ekonomi

Rabu, 06 Mei 2015 - 12:09 WIB
BI Klaim Sudah Antisipasi...
BI Klaim Sudah Antisipasi Perlambatan Ekonomi
A A A
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mengklaim bahwa perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I/2015, yang hanya mampu bertengger di angka 4,7% telah diantisipasi sebelumnya.

Gubernur BI Agus Martowardojo mengungkapkan, penurunan pertumbuhan ekonomi yang dialami Indonesia saat ini penyebabnya tidak hanya berasal dari intern. Kondisi ekonomi global juga dinilai menjadi penyebab ekonomi Indonesia lesu.

"Kondisi ekstern yang perlu kita lihat adalah kalau kita mengikuti komoditi utama ekspor Indonesia, itu sejak 2011 kalau kita ambil 8 komoditi ekspor andalan kita, dari 2011-2015 itu per kuartal atau tahun demi tahun semua harganya terjadi penurunan. Dan itu konsisten," ujarnya usai bertemu dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara, Jakarta, Rabu (6/5/2015).

Dia menjelaskan, selama lima tahun belakangan harga komoditas mengalami perputaran cukup drastis. Jika pada 2010 hingga 2012 harga komoditas seluruhnya mengalami lonjakan, maka kondisi terbalik terjadi pada periode 2012 hingga 2015, di mana delapan komoditi andalan ekspor Indonesia seluruhnya anjlok.

"Jadi sangat dapat kita pahami, kalau kita enggak lakukan hilirisasi, atau diversifikasi pasar itu akan berdampak ke Indonesia. Dan kita juga tahu kalau harga minyak sebagai salah satu komoditi utama turun, harga komoditi yang lain juga cenderung turun," imbuh Agus.

Selain itu, sambung mantan Menteri Keuangan ini, koreksi besar juga terjadi pada pertumbuhan ekonomi di China. Sejak 2014 hingga saat ini, perekonomian China diperkirakan hanya tumbuh 6,8%. Sehingga wajar jika permintaan China atas produk Indonesia cenderung lebih sedikit.

"Jadi kondisi dari pertumbuhan ekonomi relatif lebih rendah, itu dipengaruhi karena mineral lemah, dan pertumbuhan sektor kalaupun ada, itu kecil. Dan ini berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang 4,7%," terangnya.

Agus menambahkan, faktor di dalam negeri pun turut berperan dalam menciptakan perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal ini menyangkut Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2015 yang membutuhkakn proses negosiasi di parlemen untuk memuluskannya.

"Dan ada 10 kementerian yang nomenklaturnya musti disesuaikan. Sehingga pengeluaran pemerintah masih terhambat," tandas dia.

(Baca: Indef: Sebaiknya Jokowi Reshuffle Menteri Ekonomi)
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Proyeksi Pertumbuhan...
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Kembali Dipangkas
BI Proyeksikan Ekonomi...
BI Proyeksikan Ekonomi RI Tumbuh 4,7 Persen hingga 5,5 Persen di 2025
Prospek Bisnis Seiring...
Prospek Bisnis Seiring Pertumbuhan Ekonomi RI
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Berita Terkini
Prabowo Kumpulin Menteri...
Prabowo Kumpulin Menteri di Hambalang Bahas Harga Khusus BBM untuk Nelayan
1 jam yang lalu
Raih 3 Pengakuan Internasional,...
Raih 3 Pengakuan Internasional, IIF Terus Memperkuat Kapasitas Pendanaan Infrastruktur
1 jam yang lalu
S&P Pertahankan Rating...
S&P Pertahankan Rating dan Outlook Kredit Indonesia, Purbaya: Arah Kebijakan Ekonomi Terjaga
1 jam yang lalu
Danamon Prasmul EduWealth...
Danamon Prasmul EduWealth Menjawab Tren Kenaikan Biaya Pendidikan: Ekosistem Pendanaan dan Proteksi
2 jam yang lalu
Sensus Ekonomi Tak Hanya...
Sensus Ekonomi Tak Hanya Dilakukan Indonesia: Gerakan Global yang Diikuti Malaysia hingga Zimbabwe
2 jam yang lalu
Membuka Pintu Investasi...
Membuka Pintu Investasi dan Kerja Sama Selangor-Jawa Barat lewat SIBS 2026
3 jam yang lalu
Infografis
10 Radar Militer Terbaik...
10 Radar Militer Terbaik di Dunia, Sudah Teruji di Medan Perang
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved