Pelni Hemat Miliaran Rupiah dari Efisiensi BBM Kapal
Kamis, 23 Juli 2020 - 11:08 WIB
Sejumlah langkah penting diambil PT Pelayaran Nasional Indonesia atau PT PELNI (Persero) dalam upaya melakukan efisiensi biaya operasional. Langkah efisiensi semakin penting untuk dilakukan sejak pandemi COVID-19 karena berdampak terhadap bisnis Perusahaa
JAKARTA - Sejumlah langkah penting diambil PT Pelayaran Nasional Indonesia atau PT PELNI (Persero) dalam upaya melakukan efisiensi biaya operasional. Langkah efisiensi semakin penting untuk dilakukan sejak pandemi COVID-19 karena berdampak terhadap bisnis Perusahaan.
Sejak COVID-19 merebak di Indonesia pertengahan Maret lalu, sejumlah pemerintah daerah mengambil langkah pencegahan dengan menutup akses pelabuhan bagi aktivitas kapal penumpang, termasuk kapal penumpang PELNI. Direktur Armada PT PELNI Tukul M Harsono mengatakan, berdasarkan catatan yang dimilikinya, tak kurang dari 50 pelabuhan yang menutup aktivitasnya.
"Penutupan pelabuhan ini tentu dapat kami maklumi sebagai upaya pencegahan penyebaran COVID-19. Tetapi bagi Perusahaan, terdapat efek operasional dan finansial yang menuntut penyesuaian cepat dan mengambil langkah strategis. Salah satu yang kami jalankan adalah penyesuaian operasional dari sisi armada kapal yang mengambil porsi terbesar dari biaya perkapalan Perusahaan," tutur Tukul M Harsono di Jakarta, Kamis (23/7/2020).
(Baca Juga: Operasional Kapal Saat New Normal, Ini Langkah Skenario Pelni )
Pria kelahiran Demak yang menjabat sejak 2017 ini menggambarkan bahwa komponen biaya terbesar untuk pengoperasian kapal berasal dari belanja bahan bakar minyak (BBM) yang mencapai lebih dari 50 persen. Saat ini armada kapal PELNI mendapatkan suplai BBM dari PT Pertamina (Persero).
Sejak COVID-19 merebak di Indonesia pertengahan Maret lalu, sejumlah pemerintah daerah mengambil langkah pencegahan dengan menutup akses pelabuhan bagi aktivitas kapal penumpang, termasuk kapal penumpang PELNI. Direktur Armada PT PELNI Tukul M Harsono mengatakan, berdasarkan catatan yang dimilikinya, tak kurang dari 50 pelabuhan yang menutup aktivitasnya.
"Penutupan pelabuhan ini tentu dapat kami maklumi sebagai upaya pencegahan penyebaran COVID-19. Tetapi bagi Perusahaan, terdapat efek operasional dan finansial yang menuntut penyesuaian cepat dan mengambil langkah strategis. Salah satu yang kami jalankan adalah penyesuaian operasional dari sisi armada kapal yang mengambil porsi terbesar dari biaya perkapalan Perusahaan," tutur Tukul M Harsono di Jakarta, Kamis (23/7/2020).
(Baca Juga: Operasional Kapal Saat New Normal, Ini Langkah Skenario Pelni )
Pria kelahiran Demak yang menjabat sejak 2017 ini menggambarkan bahwa komponen biaya terbesar untuk pengoperasian kapal berasal dari belanja bahan bakar minyak (BBM) yang mencapai lebih dari 50 persen. Saat ini armada kapal PELNI mendapatkan suplai BBM dari PT Pertamina (Persero).
Lihat Juga :