Kinerja Cemerlang Produsen Semen Merah Putih, Raup Pendapatan Rp9,7 T di 2022
Jum'at, 23 Juni 2023 - 15:46 WIB
Baca Juga: Bertahan di Tengah Tantangan Berat Industri Semen pada Tahun 2022
Ada 14 varian produk semen yang telah dihasilkan. Untuk semen kantong (bag), ada merek Semen Merah Putih dan Semen Merah Putih “Water Shield”. Kemudian ada 12 jenis semen curah (bulk) dimana ada 4 produk ramah lingkungan (green product) di antaranya. Sedangkan sisanya merupakan 2 produk derivative.
Secara keseluruhan, total penjualan domestik semen dan klinker di tahun 2022 naik 7,1% menjadi 4,9 juta ton dibandingkan tahun 2021 yang sebesar 4,57 juta ton. Sedangkan total penjualan dari dua market utama (Indonesia dan Vietnam) di tahun 2022 mencapai 12,4 juta ton atau naik 1% dibandingkan tahun 2021.
Untuk pertumbuhan penjualan ekspor mengalami peningkatan sebesar 4% dari tahun sebelumnya, dari 3,86 juta ton menjadi 4,025 juta ton.
“Pertumbuhan penjualan tersebut didukung antara lain pengembangan produk-produk inovatif seperti water repellent cement, pengembangan jalur distribusi, penambahan distributor semen dimana di beberapa daerah jumlahnya meningkat,” ujarnya.
Dengan kinerja yang bagus ini, Cemindo berhasil menempati peringkat 4 besar dari 8 perusahaan semen terbesar di Tanah Air berdasarkan market share. Tercatat market share Cemindo di tahun 2022 sebesar 6,92% atau naik 0,7% dibandingkan tahun 2021 yang sebesar 6,19%.
Sedangkan untuk posisi 3 besar yakni Semen Indonesia Group+SBI (ex Holcim), Indocement dan Conch total market share tahun 2022 sebesar 84,22%. Dan untuk market share 4 industri semen lainnya sebesar 8,86%.
Kinerja yang gemilang ini menunjukkan, bahwa perusahaan semen dengan kode CMNT ini mampu bertahan dan bertumbuh sepanjang tahun 2022 di tengah permintaan semen di Indonesia yang sedang menurun sebesar 2,9%, dari 65,2 juta ton menjadi 63,3 juta ton. Tak hanya Indonesia, pasar utama Cemindo lainnya, yakni Vietnam juga mengalami stagnan.
Penurunan permintaan semen secara nasional tersebut disebabkan dampak dari perlambatan realisasi sejumlah proyek konstruksi karena pandemi Covid-19. Sementara kenaikan harga jual rata-rata disebabkan oleh melonjaknya harga energi seperti BBM dan batubara.
Ada 14 varian produk semen yang telah dihasilkan. Untuk semen kantong (bag), ada merek Semen Merah Putih dan Semen Merah Putih “Water Shield”. Kemudian ada 12 jenis semen curah (bulk) dimana ada 4 produk ramah lingkungan (green product) di antaranya. Sedangkan sisanya merupakan 2 produk derivative.
Secara keseluruhan, total penjualan domestik semen dan klinker di tahun 2022 naik 7,1% menjadi 4,9 juta ton dibandingkan tahun 2021 yang sebesar 4,57 juta ton. Sedangkan total penjualan dari dua market utama (Indonesia dan Vietnam) di tahun 2022 mencapai 12,4 juta ton atau naik 1% dibandingkan tahun 2021.
Untuk pertumbuhan penjualan ekspor mengalami peningkatan sebesar 4% dari tahun sebelumnya, dari 3,86 juta ton menjadi 4,025 juta ton.
“Pertumbuhan penjualan tersebut didukung antara lain pengembangan produk-produk inovatif seperti water repellent cement, pengembangan jalur distribusi, penambahan distributor semen dimana di beberapa daerah jumlahnya meningkat,” ujarnya.
Dengan kinerja yang bagus ini, Cemindo berhasil menempati peringkat 4 besar dari 8 perusahaan semen terbesar di Tanah Air berdasarkan market share. Tercatat market share Cemindo di tahun 2022 sebesar 6,92% atau naik 0,7% dibandingkan tahun 2021 yang sebesar 6,19%.
Sedangkan untuk posisi 3 besar yakni Semen Indonesia Group+SBI (ex Holcim), Indocement dan Conch total market share tahun 2022 sebesar 84,22%. Dan untuk market share 4 industri semen lainnya sebesar 8,86%.
Kinerja yang gemilang ini menunjukkan, bahwa perusahaan semen dengan kode CMNT ini mampu bertahan dan bertumbuh sepanjang tahun 2022 di tengah permintaan semen di Indonesia yang sedang menurun sebesar 2,9%, dari 65,2 juta ton menjadi 63,3 juta ton. Tak hanya Indonesia, pasar utama Cemindo lainnya, yakni Vietnam juga mengalami stagnan.
Penurunan permintaan semen secara nasional tersebut disebabkan dampak dari perlambatan realisasi sejumlah proyek konstruksi karena pandemi Covid-19. Sementara kenaikan harga jual rata-rata disebabkan oleh melonjaknya harga energi seperti BBM dan batubara.
Lihat Juga :