8 Sentimen Bayangi Pergerakan IHSG Pekan Ini, Berikut Proyeksi Analis
Senin, 03 Februari 2025 - 08:56 WIB
Market pada sepekan mendatang 3-7 Februari 2025 diprediksi akan bergerak positif dengan 8 sentimen yang menggerakannya, meski dalam sepekan terakhir pergerakan IHSG cenderung melemah. Foto/Dok
JAKARTA - Market pada sepekan mendatang 3-7 Februari 2025 diprediksi akan bergerak positif dengan 8 sentimen yang menggerakannya, meski dalam sepekan terakhir pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) cenderung melemah sebesar -0,79% disertai dengan outflow di pasar regular sebesar Rp521,4 miliar.
Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi menerangkan, ada beberapa katalis atau sentimen yang memengaruhi pergerakan IHSG pada sepekan lalu yang hanya berlangsung selama 2 hari perdagangan yakni, NBS Manufacturing PMI, Fed Interest Rate Decision, Foreign Direct Investment dan Core PCE.
Baca Juga: Akhir Pekan Kelabu, IHSG Parkir di Zona Merah Merosot Nyaris 1%
- NBS Manufacturing PMI.
PMI Manufaktur China pada Januari 2025 turun ke 49,1 dari 50,1 di Desember serta berada di bawah konsensus 50,1, menunjukkan kontraksi pertama dalam lima bulan. Penurunan ini dipicu oleh melemahnya aktivitas pabrik menjelang Tahun Baru Imlek, dengan output dan pesanan baru mengalami penurunan signifikan.
Imam menegaskan, China adalah mitra dagang utama Indonesia, terutama untuk komoditas seperti batu bara, nikel, dan CPO. Pelemahan sektor manufaktur China dapat mengurangi permintaan bahan baku dari Indonesia, berpotensi menekan harga dan volume ekspor.
- Fed Interest Rate Decision.
The Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 4,25%-4,5% dalam pertemuan Januari 2025, sesuai ekspektasi pasar. Ketua The Fed, Jerome Powell menegaskan, bahwa bank sentral tidak terburu-buru untuk menurunkan suku bunga lebih lanjut dan ingin melihat kemajuan lebih lanjut dalam pengendalian inflasi.
“Dengan suku bunga The Fed tetap tinggi, arus modal asing ke negara berkembang seperti Indonesia bisa terbatas karena investor tetap memilih aset berbunga tinggi di AS. Rupiah bisa menghadapi tekanan jika aliran dana asing keluar dari pasar obligasi dan saham,” jelas Imam.
- Foreign Direct Investment.
Investasi asing langsung (FDI) ke Indonesia, di luar sektor keuangan serta minyak & gas, melonjak 33,3% YoY mencapai Rp245,8 triliun (USD55,33 miliar) pada kuartal IV 2024. Ini merupakan pertumbuhan tercepat sejak Q4 2022, terutama didorong oleh investasi besar di sektor pemrosesan mineral.
Investor asing tetap tertarik pada industri pertambangan dan pemurnian logam Indonesia, terutama setelah larangan ekspor bijih nikel sejak 2020 yang bertujuan menarik investasi dalam rantai pasok kendaraan listrik (EV). Negara asal FDI terbesar adalah Singapura, Hong Kong, dan China. Sepanjang 2024, total investasi langsung (termasuk domestik) mencapai Rp1.714,2 triliun (USD105,13 miliar), tumbuh 20,8% YoY.
“Peningkatan FDI menunjukkan keberhasilan kebijakan hilirisasi, khususnya dalam mendukung rantai pasok kendaraan listrik dan pemrosesan mineral.”
- Core PCE.
Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi menerangkan, ada beberapa katalis atau sentimen yang memengaruhi pergerakan IHSG pada sepekan lalu yang hanya berlangsung selama 2 hari perdagangan yakni, NBS Manufacturing PMI, Fed Interest Rate Decision, Foreign Direct Investment dan Core PCE.
Baca Juga: Akhir Pekan Kelabu, IHSG Parkir di Zona Merah Merosot Nyaris 1%
- NBS Manufacturing PMI.
PMI Manufaktur China pada Januari 2025 turun ke 49,1 dari 50,1 di Desember serta berada di bawah konsensus 50,1, menunjukkan kontraksi pertama dalam lima bulan. Penurunan ini dipicu oleh melemahnya aktivitas pabrik menjelang Tahun Baru Imlek, dengan output dan pesanan baru mengalami penurunan signifikan.
Imam menegaskan, China adalah mitra dagang utama Indonesia, terutama untuk komoditas seperti batu bara, nikel, dan CPO. Pelemahan sektor manufaktur China dapat mengurangi permintaan bahan baku dari Indonesia, berpotensi menekan harga dan volume ekspor.
- Fed Interest Rate Decision.
The Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 4,25%-4,5% dalam pertemuan Januari 2025, sesuai ekspektasi pasar. Ketua The Fed, Jerome Powell menegaskan, bahwa bank sentral tidak terburu-buru untuk menurunkan suku bunga lebih lanjut dan ingin melihat kemajuan lebih lanjut dalam pengendalian inflasi.
“Dengan suku bunga The Fed tetap tinggi, arus modal asing ke negara berkembang seperti Indonesia bisa terbatas karena investor tetap memilih aset berbunga tinggi di AS. Rupiah bisa menghadapi tekanan jika aliran dana asing keluar dari pasar obligasi dan saham,” jelas Imam.
- Foreign Direct Investment.
Investasi asing langsung (FDI) ke Indonesia, di luar sektor keuangan serta minyak & gas, melonjak 33,3% YoY mencapai Rp245,8 triliun (USD55,33 miliar) pada kuartal IV 2024. Ini merupakan pertumbuhan tercepat sejak Q4 2022, terutama didorong oleh investasi besar di sektor pemrosesan mineral.
Investor asing tetap tertarik pada industri pertambangan dan pemurnian logam Indonesia, terutama setelah larangan ekspor bijih nikel sejak 2020 yang bertujuan menarik investasi dalam rantai pasok kendaraan listrik (EV). Negara asal FDI terbesar adalah Singapura, Hong Kong, dan China. Sepanjang 2024, total investasi langsung (termasuk domestik) mencapai Rp1.714,2 triliun (USD105,13 miliar), tumbuh 20,8% YoY.
“Peningkatan FDI menunjukkan keberhasilan kebijakan hilirisasi, khususnya dalam mendukung rantai pasok kendaraan listrik dan pemrosesan mineral.”
- Core PCE.
Lihat Juga :