Menanti Sepak Terjang Alexander Rusli Kembali ke Industri Telekomunikasi
Jum'at, 04 September 2020 - 20:25 WIB
Harga yang terlalu murah tersebut juga memaksa operator telekomunikasi lain untuk menurunkan harganya, dengan maksud tidak lain untuk mempertahankan pelanggan mereka agar tidak beralih ke Indosat. Aksi resiprokal antar operator inilah yang menimbulkan persaingan harga tidak berkelanjutan yang kemudian dikenal dengan nama perang tarif antar operator telekomunikasi.
Alex memang dikenal sebagai sosok yang tidak mudah gentar. Dalam menjalankan strategi perang tarif, Alex yang pada waktu itu menjabat sebagai Ketua Asosiasi Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) bahkan tidak segan-segan secara terbuka mengajak para operator telekomunikasi untuk “mengeroyok” Telkomsel sebagai operator terbesar.
“Saya minta kepada yang lainnya (XL dkk) untuk bersuara. Jangan takut untuk bicara, ini demi kepentingan bersama," papar Alex di tahun 2016.
Perang tarif yang diinisiasi oleh Alex berubah menjadi boomerang. Strategi untuk memenangkan pasar malah berujung malapetaka bagi industri telekomunikasi. Banyak operator telekomunikasi dibuat berdarah-darah secara finansial.
Dengan harga jual layanan telepon dan data yang sangat rendah, operator besar dan kecil tidak mendapatkan pengembalian yang wajar dan sehat dari investasi yang dilakukannya. Bahkan Indosat, perusahaan yang dipimpin oleh Alex juga menjadi korban dari perang tarif tersebut.
(Baca Juga: Juragan Telkomsel: Ada Berkah Pandemi buat Industri Telekomunikasi )
Besarnya dampak negatif perang tarif yang dirasakan oleh Indosat, membuat Alex selaku CEO berkirim surat langsung kepada Rudiantara selaku Menkominfo pada 17 Juli 2017. Dalam suratnya, Alex meminta adanya pengaturan batas bawah guna mencegah semakin jatuhnya layanan data internet.
Alex memang dikenal sebagai sosok yang tidak mudah gentar. Dalam menjalankan strategi perang tarif, Alex yang pada waktu itu menjabat sebagai Ketua Asosiasi Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) bahkan tidak segan-segan secara terbuka mengajak para operator telekomunikasi untuk “mengeroyok” Telkomsel sebagai operator terbesar.
“Saya minta kepada yang lainnya (XL dkk) untuk bersuara. Jangan takut untuk bicara, ini demi kepentingan bersama," papar Alex di tahun 2016.
Perang tarif yang diinisiasi oleh Alex berubah menjadi boomerang. Strategi untuk memenangkan pasar malah berujung malapetaka bagi industri telekomunikasi. Banyak operator telekomunikasi dibuat berdarah-darah secara finansial.
Dengan harga jual layanan telepon dan data yang sangat rendah, operator besar dan kecil tidak mendapatkan pengembalian yang wajar dan sehat dari investasi yang dilakukannya. Bahkan Indosat, perusahaan yang dipimpin oleh Alex juga menjadi korban dari perang tarif tersebut.
(Baca Juga: Juragan Telkomsel: Ada Berkah Pandemi buat Industri Telekomunikasi )
Besarnya dampak negatif perang tarif yang dirasakan oleh Indosat, membuat Alex selaku CEO berkirim surat langsung kepada Rudiantara selaku Menkominfo pada 17 Juli 2017. Dalam suratnya, Alex meminta adanya pengaturan batas bawah guna mencegah semakin jatuhnya layanan data internet.
Lihat Juga :