Memaksimalkan Etos Kerja Agar Tak Kalah dalam Persaingan
Sabtu, 17 Mei 2025 - 12:23 WIB
Menyadari membangun kesadaran bukan perkara mudah, Elizabeth menekankan, perbaikan harus dibentuk dari sekarang, jika tidak ingin tenaga kerja asing akan mendominasi. “Sedih kalau akhirnya perusahaan terpaksa menerapkan ketentuan peluang tenaga asing,” ujarnya.
Ia memberikan contoh, misalnya tidak percaya diri karena merasa kerjanya selalu diawasi sehingga terancam masa kerjanya berakhir atau PHK. “Bahkan ada yang karena merasa pekerja tersebut adalah warga sekitar yang kerja semaunya dan akhirnya justru akan mengganggu produksi industri,” ujarnya.
Hasil diskusi dengan beberapa perusahaan, Elizabeth membeberkan, sebenarnya ada kemauan memberikan upah layak, namun dengan catatan tenaga kerja lokal bisa bekerja sesuai dengan target. “Karena kinerja sehingga seharusnya bisa dikerjakan satu orang, akhirnya mesti dua orang. Dan akhirnya cost gaji membengkak,” ujarnya.
Elizabeth yang juga berprofesi sebagai pengacara ini memaparkan, beberapa klien hukumnya dari perusahaan banyak mengeluhkan kinerja tenaga lokal dan akhirnya memilih tenaga kerja asing. Padahal perusahaan berkeinginan merekrut tenaga lokal untuk pemberdayaan dan mengurangi angka penggangguran di Indonesia.
Atas dasar itulah, Ia mencoba mencari tahu permasalahan tenaga kerja Indonesia yang tenyata beragam. Dari soal syarat dan peraturan lapangan kerja, Informasi ke masyarakat. “Dan yang sering banget, mesti ada orang dalam yang diutamakan jika ingin bekerja,” ujar Elizabeth.
Dihadapan calon tenaga kerja yang ikut diskusi dan akan dipersiapkan di perusahaan kliennya itu, Elizabeth mengatakan, mitos usia dan orang dalam jangan dijadikan kekhawatiran tenaga kerja. Menurutnya, yang paling penting adalah upgrade diri dan kemampuan. “Karena saat ini semua sudah digantikan oleh mesin. Belajar dan belajar,” ujarnya.
Ia memberikan contoh, misalnya tidak percaya diri karena merasa kerjanya selalu diawasi sehingga terancam masa kerjanya berakhir atau PHK. “Bahkan ada yang karena merasa pekerja tersebut adalah warga sekitar yang kerja semaunya dan akhirnya justru akan mengganggu produksi industri,” ujarnya.
Hasil diskusi dengan beberapa perusahaan, Elizabeth membeberkan, sebenarnya ada kemauan memberikan upah layak, namun dengan catatan tenaga kerja lokal bisa bekerja sesuai dengan target. “Karena kinerja sehingga seharusnya bisa dikerjakan satu orang, akhirnya mesti dua orang. Dan akhirnya cost gaji membengkak,” ujarnya.
Elizabeth yang juga berprofesi sebagai pengacara ini memaparkan, beberapa klien hukumnya dari perusahaan banyak mengeluhkan kinerja tenaga lokal dan akhirnya memilih tenaga kerja asing. Padahal perusahaan berkeinginan merekrut tenaga lokal untuk pemberdayaan dan mengurangi angka penggangguran di Indonesia.
Atas dasar itulah, Ia mencoba mencari tahu permasalahan tenaga kerja Indonesia yang tenyata beragam. Dari soal syarat dan peraturan lapangan kerja, Informasi ke masyarakat. “Dan yang sering banget, mesti ada orang dalam yang diutamakan jika ingin bekerja,” ujar Elizabeth.
Dihadapan calon tenaga kerja yang ikut diskusi dan akan dipersiapkan di perusahaan kliennya itu, Elizabeth mengatakan, mitos usia dan orang dalam jangan dijadikan kekhawatiran tenaga kerja. Menurutnya, yang paling penting adalah upgrade diri dan kemampuan. “Karena saat ini semua sudah digantikan oleh mesin. Belajar dan belajar,” ujarnya.
Lihat Juga :