Dorong Energi Hijau, Pertamina NRE Akuisisi 20% Saham Perusahaan EBT Filipina
Sabtu, 28 Juni 2025 - 22:04 WIB
Sementara, Chairman CREC Edgar Saavedra mengatakan, kolaborasi dengan Pertamina NRE sebagai langkah strategis dalam mempercepat transisi menuju penggunaan energi terbarukan sepenuhnya di Filipina. "Bersama Pertamina NRE, kami ingin menciptakan solusi energi bersih yang responsif dan kolaboratif, baik untuk Filipina maupun Indonesia," ujarnya.
Selain share subscription agreement, kedua perusahaan juga menandatangani framework agreement untuk pengembangan proyek energi terbarukan di Indonesia dan kerja sama dalam perdagangan kredit karbon dari proyek-proyek tersebut.
Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, menyambut positif kolaborasi ini. Menurutnya, kesepakatan tersebut dapat menjadi model kerja sama strategis antarnegara ASEAN di sektor energi terbarukan. "Kemitraan ini bersifat resiprokal dan akan membuka jalan bagi investasi baru di Indonesia," ujarnya.
Kerja sama ini diharapkan membawa sejumlah manfaat strategis bagi Indonesia, termasuk peningkatan pengembangan sumber daya manusia, percepatan pembangunan pabrik panel surya, hingga dukungan terhadap target bauran energi terbarukan sebesar 60 persen pada 2034 sebagaimana tercantum dalam RUPTL.
Selain itu, kolaborasi ini diproyeksikan mendorong peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), meningkatkan daya saing industri energi bersih nasional, serta memperkuat posisi Indonesia sebagai pemimpin transisi energi di Asia Tenggara.
Selain share subscription agreement, kedua perusahaan juga menandatangani framework agreement untuk pengembangan proyek energi terbarukan di Indonesia dan kerja sama dalam perdagangan kredit karbon dari proyek-proyek tersebut.
Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, menyambut positif kolaborasi ini. Menurutnya, kesepakatan tersebut dapat menjadi model kerja sama strategis antarnegara ASEAN di sektor energi terbarukan. "Kemitraan ini bersifat resiprokal dan akan membuka jalan bagi investasi baru di Indonesia," ujarnya.
Kerja sama ini diharapkan membawa sejumlah manfaat strategis bagi Indonesia, termasuk peningkatan pengembangan sumber daya manusia, percepatan pembangunan pabrik panel surya, hingga dukungan terhadap target bauran energi terbarukan sebesar 60 persen pada 2034 sebagaimana tercantum dalam RUPTL.
Selain itu, kolaborasi ini diproyeksikan mendorong peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), meningkatkan daya saing industri energi bersih nasional, serta memperkuat posisi Indonesia sebagai pemimpin transisi energi di Asia Tenggara.
Lihat Juga :