Dukung Transisi Energi, KPI Kembangkan Kilang Hijau hingga Produksi Biofuel
Kamis, 03 Juli 2025 - 18:20 WIB
Pertama, metode co-processing, yakni mencampurkan bahan baku nabati seperti Refined Bleached Deodorized Palm Kernel Oil dengan bahan fosil dalam kilang eksisting. Dengan metode ini, KPI telah berhasil memproduksi Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF) dengan kandungan 2,4 persen bioavtur.
Kedua, KPI menggunakan metode conversion, yaitu memproses bahan baku nabati secara penuh menjadi bahan bakar. Produk hasil strategi ini adalah Pertamina Renewable Diesel (RD) berbasis Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) yang dikembangkan secara mandiri.
Selain itu, KPI juga menyiapkan pengembangan kilang hijau (green refinery) generasi kedua dengan memanfaatkan limbah nabati seperti minyak jelantah. Inisiatif ini akan diawali dari Kilang Cilacap dan direncanakan diperluas ke kilang lainnya.
Taufik menyebutkan, metode co-processing dipilih sebagai strategi awal produksi SAF karena efisien, minim investasi, dan bisa dijalankan melalui fasilitas yang sudah tersedia. "Ini langkah cepat dan tepat sambil menyiapkan infrastruktur yang lebih besar untuk produksi biofuel secara masif," katanya.
Ia menegaskan pengembangan ekosistem biofuel memerlukan sinergi dari seluruh pemangku kepentingan, baik dari sisi regulasi maupun teknis. KPI, imbuhnya, berkomitmen menjalankan peran sebagai produsen sesuai dengan peta jalan yang telah disusun bersama pemangku kepentingan.
Baca Juga: Dukung Energi Hijau, Seluruh Kapal Domestik PIS Gunakan B40
Kedua, KPI menggunakan metode conversion, yaitu memproses bahan baku nabati secara penuh menjadi bahan bakar. Produk hasil strategi ini adalah Pertamina Renewable Diesel (RD) berbasis Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) yang dikembangkan secara mandiri.
Selain itu, KPI juga menyiapkan pengembangan kilang hijau (green refinery) generasi kedua dengan memanfaatkan limbah nabati seperti minyak jelantah. Inisiatif ini akan diawali dari Kilang Cilacap dan direncanakan diperluas ke kilang lainnya.
Taufik menyebutkan, metode co-processing dipilih sebagai strategi awal produksi SAF karena efisien, minim investasi, dan bisa dijalankan melalui fasilitas yang sudah tersedia. "Ini langkah cepat dan tepat sambil menyiapkan infrastruktur yang lebih besar untuk produksi biofuel secara masif," katanya.
Ia menegaskan pengembangan ekosistem biofuel memerlukan sinergi dari seluruh pemangku kepentingan, baik dari sisi regulasi maupun teknis. KPI, imbuhnya, berkomitmen menjalankan peran sebagai produsen sesuai dengan peta jalan yang telah disusun bersama pemangku kepentingan.
Baca Juga: Dukung Energi Hijau, Seluruh Kapal Domestik PIS Gunakan B40
Lihat Juga :