Living Lab Berbasis Masyarakat jadi Solusi Petani Hadapi Perubahan Iklim

Jum'at, 10 Oktober 2025 - 11:17 WIB
TAMENG kini berkembang menjadi pusat hortikultura modern dan ramah lingkungan. Inovasi teknologi yang diterapkan mencakup penggunaan solar cell untuk menggerakkan alat dan mesin pertanian (alsintan) seperti pompa air, water drip, dan sprinkle. Selain itu, kelompok ini juga aktif dalam pengelolaan limbah untuk meningkatkan efisiensi dan menciptakan nilai tambah.

Petani TAMENG mengelola limbah pertanian dan rumah tangga dengan memilahnya menjadi organik dan anorganik. Limbah organik dari sisa panen sayur diolah menjadi plant booster (POC), agensia hayati, dan pakan ternak. Bahkan, limbah sayur yang masih layak konsumsi dimanfaatkan oleh istri petani menjadi berbagai produk olahan seperti mi sayur dan keripik sayur, yang turut meningkatkan pendapatan keluarga.

Baca Juga: Dorong Inovasi, Petrokimia Gresik Ciptakan Nilai Tambah Rp357 Miliar

Untuk semakin memperkuat kemandirian ekonomi, kelompok tani turut mengembangkan lini usaha peternakan terintegrasi, termasuk budidaya domba, ikan, dan azolla, serta budidaya cacing untuk pupuk kascing. Selain itu, kawasan ini juga dikembangkan sebagai agrowisata edukasi, yang menawarkan pengalaman memetik hasil kebun dan pelatihan pertanian ramah lingkungan bagi pengunjung.

Karmukit menyimpulkan bahwa konsep Living Lab berbasis komunitas telah menjadikan TAMENG sebagai ekosistem pertanian hortikultura dari hulu hingga hilir yang mampu meningkatkan kemandirian petani lokal, sekaligus memberikan kontribusi nyata dalam mendukung terwujudnya swasembada pangan nasional.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!