Pakar Desak Benahi Struktur Free Float Saham Indonesia

Rabu, 29 Oktober 2025 - 14:17 WIB
Menurutnya, langkah MSCI tersebut tidak semata soal teknis metodologi, tetapi mencerminkan masih adanya anomali yang dibiarkan bertahun-tahun. “Selama ini banyak emiten besar di Indonesia memiliki struktur kepemilikan yang rumit dan tertutup. Free float yang tercatat sering kali tidak mencerminkan realitas likuiditas di pasar karena sebagian besar saham masih dipegang entitas korporasi,” ujarnya.

Dalam kondisi seperti ini, tanpa penyelarasan kebijakan antara otoritas nasional dan standar global, emiten-emiten yang secara fundamental sangat kuat justru berpotensi terdampak negatif akibat kajian baru yang mungkin akan diterapkan MSCI. Hal itu dapat memicu penyesuaian bobot saham di indeks global dan menggeser persepsi investor terhadap pasar Indonesia.

Selama ini, BEI dan OJK belum pernah melakukan penertiban menyeluruh terhadap laporan kepemilikan saham minoritas. Padahal, transparansi struktur kepemilikan dan akurasi data free float menjadi prasyarat utama agar pasar modal bisa tumbuh sehat dan efisien.

Akibat lemahnya pengawasan, pasar saham Indonesia dinilai semakin sulit mencerminkan nilai wajar. Saham-saham dengan kapitalisasi besar tetapi free float kecil menjadi kurang likuid, sementara saham-saham kecil yang spekulatif justru mendominasi pergerakan indeks.

“Ke depan penting untuk memperkuat sinergi agar pasar modal kita semakin kredibel. BEI dan OJK perlu menciptakan metodologi yang lebih definitif dan menegakkan pelaporan kepemilikan yang transparan. Intinya, semua regulasi dan aktivitas perdagangan harus menitikberatkan pada perlindungan investor, itu yang paling esensial,” kata Nafan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!