Menakar Risiko Besar Menahan Harga BBM Terlalu Lama: Beban Fiskal Makin Berat

Sabtu, 11 April 2026 - 09:30 WIB
Kebijakan menahan harga bahan bakar minyak (BBM) di tengah lonjakan harga minyak dunia dinilai efektif menjaga stabilitas ekonomi dalam jangka pendek. Namun di balik itu ada risiko besar. Foto/Dok
JAKARTA - Kebijakan menahan harga bahan bakar minyak (BBM) di tengah lonjakan harga minyak dunia dinilai efektif menjaga stabilitas ekonomi dalam jangka pendek. Namun di balik itu ada risiko besar jika kebijakan tersebut dipertahankan terlalu lama.

Sejak awal April 2026, harga minyak dunia kembali menembus kisaran USD115 per barel. Secara teori, kenaikan ini seharusnya mendorong harga BBM domestik ikut meningkat. Namun pemerintah memilih menahan harga melalui skema subsidi dan kompensasi, sehingga masyarakat tetap menikmati harga yang relatif stabil.



Dosen dan peneliti ekonomi Universitas Jakarta Internasional (Uniji), Putri Sarah Olivia menjelaskan, bahwa kebijakan ini merupakan bagian dari strategi price smoothing, yakni meredam fluktuasi harga agar tidak langsung berdampak pada inflasi dan daya beli masyarakat.

Baca Juga: Defisit APBN Rp240,1 Triliun Dinilai Sebagai Alarm Kebijakan, Haruskah Panik?

Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!