Pelemahan Rupiah Dinilai Bukan Pertanda Krisis, Tapi Restrukturisasi Ekonomi
Kamis, 21 Mei 2026 - 21:59 WIB
Baca Juga: Tok! BI Menaikkan Suku Bunga Acuan ke Level 5,25%, Mampukah Selamatkan Rupiah?
Di sisi lain, Deni menyoroti pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 yang mencapai 5,61%. Menurutnya, angka tersebut memberi kesan stabilitas ekonomi nasional masih terjaga.
"Angka ini menenangkan publik dan pasar, seolah menegaskan ekonomi nasional masih berada di jalur aman,” ujarnya.
Namun di balik capaian itu, fondasi pertumbuhan ekonomi dinilai masih rapuh. Sebab pertumbuhan lebih banyak ditopang konsumsi pemerintah dan sektor hospitality.
"Transformasi struktural sejauh ini belum terlihat nyata. Jika tidak segera diarahkan, Indonesia berisiko terjebak dalam middle income trap atau jebakan negara berpendapatan menengah,” katanya.
"Infrastruktur dibangun, tetapi output yang dihasilkan relatif kecil dibandingkan input. Artinya, belanja fiskal belum menghasilkan produktivitas jangka panjang,” jelasnya.
Di sisi lain, Deni menyoroti pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 yang mencapai 5,61%. Menurutnya, angka tersebut memberi kesan stabilitas ekonomi nasional masih terjaga.
"Angka ini menenangkan publik dan pasar, seolah menegaskan ekonomi nasional masih berada di jalur aman,” ujarnya.
Namun di balik capaian itu, fondasi pertumbuhan ekonomi dinilai masih rapuh. Sebab pertumbuhan lebih banyak ditopang konsumsi pemerintah dan sektor hospitality.
"Transformasi struktural sejauh ini belum terlihat nyata. Jika tidak segera diarahkan, Indonesia berisiko terjebak dalam middle income trap atau jebakan negara berpendapatan menengah,” katanya.
Konsumsi Pemerintah & ICOR Tinggi
Deni menyebut pendorong utama pertumbuhan ekonomi berasal dari lonjakan konsumsi pemerintah yang mencapai 21,81%. Namun, efisiensi investasi masih rendah, tercermin dari tingginya ICOR (Incremental Capital Output Ratio)."Infrastruktur dibangun, tetapi output yang dihasilkan relatif kecil dibandingkan input. Artinya, belanja fiskal belum menghasilkan produktivitas jangka panjang,” jelasnya.
Lihat Juga :