Ketahanan Energi Nasional Dinilai Masih Rapuh di Tengah Tekanan Global

Minggu, 31 Mei 2026 - 09:00 WIB
Uchok mengingatkan agar pemerintah berhati-hati terhadap pembentukan badan ekspor satu pintu sektor pertambangan karena dinilai berpotensi mengulang pola monopoli seperti BPPC pada era Orde Baru.

Di sisi lain, Direktur Eksekutif Daulat Energi, Ridwan Hanafi menerangkan, batu bara masih memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas energi nasional di tengah dinamika geopolitik global.

Menurut Ridwan, Indonesia relatif berada pada posisi lebih aman dibanding sejumlah negara lain karena masih memiliki kekuatan sumber daya energi domestik, khususnya batu bara yang menjadi tulang punggung pembangkit listrik nasional.

Ia juga menyoroti disparitas harga batu bara domestik antara pasokan untuk PLN dan industri swasta.

Saat ini, harga Domestic Market Obligation (DMO) batu bara untuk kebutuhan pembangkit listrik PLN berada di kisaran USD70 per metrik ton, sementara harga pasokan untuk PLTU industri swasta dapat mencapai sekitar USD90 per metrik ton atau lebih, tergantung spesifikasi dan kontrak pasokan.

Menurutnya, perbedaan harga tersebut berpotensi menciptakan ketimpangan biaya produksi listrik industri dan menurunkan daya saing sektor manufaktur nasional.

Karena itu, Ridwan menilai diperlukan langkah penyesuaian yang sistematis dan terukur agar tercipta tata kelola energi yang lebih adil, efisien, serta tetap menjaga keberlanjutan industri pertambangan dan stabilitas pasokan energi nasional.

Para narasumber sepakat bahwa tanpa konsistensi regulasi serta keberpihakan nyata terhadap pengembangan energi terbarukan, Indonesia berisiko terjebak di antara tekanan global terhadap batu bara dan lambatnya transisi menuju energi bersih.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!