Ini Nih Ternyata Biang Kerok Melejitnya Harga Tahu Tempe
Jum'at, 01 Januari 2021 - 09:55 WIB
Lonjakan permintaan impor kedelai dari China disebut menjadi penyebab utama naiknya harga kedelai bahan baku tahu dan tempe di dalam negeri. Foto/Ilustrasi
JAKARTA - Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengungkapkan penyebab harga tahu dan tempe melonjak. Sekretaris Jenderal Kemendag Suhanto mengatakan, faktor utama penyebab kenaikan harga kedelai dunia diakibatkan lonjakan permintaan kedelai dari China kepada Amerika Serikat selaku eksportir kedelai terbesar dunia.
Pada Desember 2020, Kemendag mencatat permintaan kedelai China naik 2 kali lipat, yaitu dari 15 juta ton menjadi 30 juta ton. "Hal ini mengakibatkan berkurangnya kontainer di beberapa pelabuhan Amerika Serikat, seperti di Los Angeles, Long Beach dan Savannah sehingga terjadi hambatan pasokan terhadap negara importir kedelai lain termasuk Indonesia," kata Suhanto di Jakarta, Jumat (1/1/2021).
(Baca Juga: Harga Kedelai Naik 50%, Perajin Tahu Tempe Ancam Mogok Produksi)
Untuk itu perlu dilakukan antisipasi pasokan kedelai oleh para importir. Lantaran, stok saat ini tidak dapat segera ditambah mengingat kondisi harga dunia dan pengapalan yang terbatas. "Penyesuaian harga dimaksud secara psikologis diperkirakan akan berdampak pada harga di tingkat importir pada Desember 2020 sampai beberapa bulan mendatang," bebernya.
Suhanto berharap importir yang masih memiliki stok kedelai untuk dapat terus memasok secara kontinyu kepada anggota Gakoptindo dengan tidak menaikan harga.
Sementara, berdasarkan data BPS, saat ini harga rata-rata nasional kedelai pada Desember 2020 sebesar Rp11.298/kg. Harga ini turun 0,37% dibanding November 2020 dan turun 8,54% dibandingkan Desember 2019.
Pada Desember 2020, Kemendag mencatat permintaan kedelai China naik 2 kali lipat, yaitu dari 15 juta ton menjadi 30 juta ton. "Hal ini mengakibatkan berkurangnya kontainer di beberapa pelabuhan Amerika Serikat, seperti di Los Angeles, Long Beach dan Savannah sehingga terjadi hambatan pasokan terhadap negara importir kedelai lain termasuk Indonesia," kata Suhanto di Jakarta, Jumat (1/1/2021).
(Baca Juga: Harga Kedelai Naik 50%, Perajin Tahu Tempe Ancam Mogok Produksi)
Untuk itu perlu dilakukan antisipasi pasokan kedelai oleh para importir. Lantaran, stok saat ini tidak dapat segera ditambah mengingat kondisi harga dunia dan pengapalan yang terbatas. "Penyesuaian harga dimaksud secara psikologis diperkirakan akan berdampak pada harga di tingkat importir pada Desember 2020 sampai beberapa bulan mendatang," bebernya.
Suhanto berharap importir yang masih memiliki stok kedelai untuk dapat terus memasok secara kontinyu kepada anggota Gakoptindo dengan tidak menaikan harga.
Sementara, berdasarkan data BPS, saat ini harga rata-rata nasional kedelai pada Desember 2020 sebesar Rp11.298/kg. Harga ini turun 0,37% dibanding November 2020 dan turun 8,54% dibandingkan Desember 2019.
Lihat Juga :