Cerita Mendag Soal Pengusaha Exotic Leather Bangkrut Lalu Jadi Pelayan
Rabu, 17 Februari 2021 - 14:12 WIB
Dari cerita itu, Lutfi menilai pengusaha nasional masih dihadapkan pada persoalan kerumitan birokrasi dan perizinan. Perkara itu bahkan diikuti oleh pemahaman para pebisnis ihwal pemetaan market di tingkat global.
"Setelah izin, jadi pengusaha mereka dihadapkan lagi sesuatu yang mereka tidak pernah lihat sebelumnya yaitu bagaimana sulitnya mencari market. Dan yang penting setelah market-nya dicari adalah bagaimana dapat dibayar oleh pembelinya," kata dia.
Persoalan lain adalah kualitas produk di Indonesia yang tercatat masih kalah dengan negara-negara Asia lainnya. Perkara kualitas menyebabkan pengusaha kesulitan mendapatkan pasar global.
"Perbedaan daripada kualitas. Karena kualitas yang tidak sesuai dengan yang dijanjikan, orang Korea menolak untuk membayar. Begitu menolak membayar 100 juta selesai ceritanya. Nah, ini saya tes, pengen tahu berapa lama, karena saya punya Dirjen pengembangan ekspor nasional. Pengen tahu Berapa lama bisa diselesaikan," tutur Lutfi.
(Baca juga: Ada Diskon Pajak, Gaikindo Harap Penjualan Mobil Tembus 70 Ribu Unit per Bulan )
"Setelah izin, jadi pengusaha mereka dihadapkan lagi sesuatu yang mereka tidak pernah lihat sebelumnya yaitu bagaimana sulitnya mencari market. Dan yang penting setelah market-nya dicari adalah bagaimana dapat dibayar oleh pembelinya," kata dia.
Persoalan lain adalah kualitas produk di Indonesia yang tercatat masih kalah dengan negara-negara Asia lainnya. Perkara kualitas menyebabkan pengusaha kesulitan mendapatkan pasar global.
"Perbedaan daripada kualitas. Karena kualitas yang tidak sesuai dengan yang dijanjikan, orang Korea menolak untuk membayar. Begitu menolak membayar 100 juta selesai ceritanya. Nah, ini saya tes, pengen tahu berapa lama, karena saya punya Dirjen pengembangan ekspor nasional. Pengen tahu Berapa lama bisa diselesaikan," tutur Lutfi.
(Baca juga: Ada Diskon Pajak, Gaikindo Harap Penjualan Mobil Tembus 70 Ribu Unit per Bulan )
Lihat Juga :