Urban Farming, Bertani di Lahan Mini Solusi Ketahanan Pangan

Senin, 05 April 2021 - 05:34 WIB
Manfaat ekonomi diperoleh karena hasil produksi urban farming bisa mengurangi ketergantungan dengan pasar karena sebagian makanan bisa diproduksi sendiri. Sedangkan manfaat kesehatan, urban farming memberi nilai terapi. “Ketika kita mampu memproduksi makanan atau pangan sendiri, di situ ada kepuasan yang tidak terbeli. Ini baru terasa ketika kita melakukannya,” paparnya.

Solusi Pangan Masa Depan

Di masa depan, kegiatan urban farming diyakini tidak lagi sekadar penyaluran hobi, melainkan bisa menjadi solusi pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat perkotaan. Badan Pangan Dunia (FAO) memperkirakan pada 2050, kebutuhan produksi pangan dunia meningkat hingga 50% jika dibandingkan 2012. Saat itu diperkirakan sebanyak 9,7 miliar penduduk bumi membutuhkan pangan dan 68% di antaranya adalah warga perkotaan.

Dian menyebut pertanian perdesaan di masa mendatang menemui banyak tantangan. Hal ini antara lain disebabkan makin banyaknya lahan konvensional yang beralih fungsi menjadi permukiman, ledakan jumlah penduduk, dan makin menurunnya jumlah petani. Dalam situasi ini urban farming semakin relevan sebagai solusi pangan masyarakat kota di masa depan.

Menurutnya, jika pada 1960 hingga 2000, terobosan pemenuhan pangan dilakukan dengan intensifikasi masif pertanian melalui revolusi hijau, maka sekarang urban farming menjadi harapan baru. “Saat ini innovative urban farming atau pertanian perkotaan inovatif adalah jawaban atas kebutuhan pangan,” ujarnya.

Dian yang juga kandidat doktor dari Institute of Environtmental Science, Leiden University, Belanda tersebut melakukan riset tentang prospek urban farming secara global dan telah dipublikasikan melalui jurnal internasional Global Food Security pada September 2019.

Berdasarkan riset tersebut, urban farming ke depan dinilai kian menjanjikan. Riset yang mengambil sejumlah sampel di lokasi urban farming komersial di Asia, Amerika, dan Eropa itu memperlihatkan bahwa sistem pertanian perkotaan tersebut bisa meningkatkan sumber pangan dengan efektif, efisien, dan terjangkau. “Pelajaran besar secara global ini bagi Indonesia, sebagai negara berkembang, pemenuhan kebutuhan pangan kita masih banyak bergantung dari desa, terutama makanan pokok. Terbaik kalau kalau mau bangkit, kita perlu lebih fokus pada urban farming, karena saat ini masih seperti kompelemen, pelengkap saja,” ujarnya.

Urban-Tradisional Jalan Beriringan

Peneliti dari Pusat Penelitian Bioteknologi-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Endang Tri Margawati menyebut tren urban farming yang lagi booming tidak akan mengurangi keberadaan pertanian tradisional. Urban farming dan traditional farming diakui akan berjalan beriringan.

Isu ketahanan pangan di masa depan memang sering dikaitkan dengan urban farming. Namun, bagi Endang, ketersediaan pangan, khususnya di Indonesia masih aman.

Pertanian yang dilakukan oleh masyarakat perkotaan ini justru dinilainya seperti yang dilakukan masyarakat pada dahulu kala. "Bukan hanya ingin mendapatkan hasil pertanian, namun kini bisa meluas, misalnya menjual bibit, menanam jenis tanaman lain seperti tanaman hias, juga sayuran organik yang lebih sehat," ujarnya.

Menurutnya, urban farming memang hal yang baik karena jika masyarakat sudah terbiasa menanam tanaman di tempat yang tidak biasa tersebut, dan ketika ada ancaman yang mengganggu produksi pangan, misalnya musim yang tidak menentu, aktivitas bertani dapat dilakukan dengan cara itu.
(ynt)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!