Masa Transisi, Pelaku Ritel Perlu Lebih Inovatif Gaet Konsumen
Minggu, 14 Juni 2020 - 13:55 WIB
Dia menjelaskan, dengan CCTV pelaku ritel dapat lebih cepat mengenali pelanggan utamanya dan seketika bisa melayani secara jemput bola atau proaktif menawarkan produk yang biasa ditanyakan. Menurutnya, CCTV juga bisa diperkuat fitur pengenalan wajah, namun tentunya atas seizin pelanggan tersebut.
"Bahkan kita juga bisa analisa bahasa tubuh seperti arah pandangan kemana saja. Jadi pemilik toko bisa menyiasati dalam penempatan produk lebih strategis. Banyak manfaat lainnya," ujarnya.
Sementara itu untuk pedagang online menurutnya juga dapat lebih membaca kebiasaan pelanggan di situs online. Berbagai upaya harus dilakukan untuk menahan pelanggan betah berlama-lama melihat situs online toko ritel. "Mereka dapat mengetahui berapa lama pelanggan bertahan di satu halaman dan harus dipikirkan fitur apa yang dibutuhkan untuk menahannya betah dan lebih lama," tuturnya.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey menilai pelaku ritel modern siap memasuki transisi pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Karena itu menurut dia sangat penting berinovasi di tengah penerapan protokol kesehatan dengan tetap meningkatkan engagement dan connectivity. Dirinya mencontohkan supermarket kini sudah memulai mengombinasikan penjarakan fisik dan belanja offline. Selain itu brand besar juga telah mengembangkan edukasi produk dari jauh-jauh hari sebelum diluncurkan.
"Sekarang sudah ada supermarket yang melayani pesan online sebelum ke toko. Kemudian pelanggan tinggal parkir mobilnya lalu barang dihantarkan ke mobil. Ini inovasi demi menjaga protokol kesehatan," ujar Roy.
Sementara itu Direktur Riset Iconomics Alex Mulya menjelaskan data riset yang dilakukan ada penurunan tingkat kekhawatiran masyarakat sejak bulan April hingga Juni. Menurutnya jumlah masyarakat yang sangat khawatir saat April sudah jauh berkurang dan berganti dengan kondisi ragu-ragu. Bahkan keberanian masyarakat untuk belanja offline ke toko fisik sudah mulai meningkat di bulan Juni.
"Bahkan kita juga bisa analisa bahasa tubuh seperti arah pandangan kemana saja. Jadi pemilik toko bisa menyiasati dalam penempatan produk lebih strategis. Banyak manfaat lainnya," ujarnya.
Sementara itu untuk pedagang online menurutnya juga dapat lebih membaca kebiasaan pelanggan di situs online. Berbagai upaya harus dilakukan untuk menahan pelanggan betah berlama-lama melihat situs online toko ritel. "Mereka dapat mengetahui berapa lama pelanggan bertahan di satu halaman dan harus dipikirkan fitur apa yang dibutuhkan untuk menahannya betah dan lebih lama," tuturnya.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey menilai pelaku ritel modern siap memasuki transisi pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Karena itu menurut dia sangat penting berinovasi di tengah penerapan protokol kesehatan dengan tetap meningkatkan engagement dan connectivity. Dirinya mencontohkan supermarket kini sudah memulai mengombinasikan penjarakan fisik dan belanja offline. Selain itu brand besar juga telah mengembangkan edukasi produk dari jauh-jauh hari sebelum diluncurkan.
"Sekarang sudah ada supermarket yang melayani pesan online sebelum ke toko. Kemudian pelanggan tinggal parkir mobilnya lalu barang dihantarkan ke mobil. Ini inovasi demi menjaga protokol kesehatan," ujar Roy.
Sementara itu Direktur Riset Iconomics Alex Mulya menjelaskan data riset yang dilakukan ada penurunan tingkat kekhawatiran masyarakat sejak bulan April hingga Juni. Menurutnya jumlah masyarakat yang sangat khawatir saat April sudah jauh berkurang dan berganti dengan kondisi ragu-ragu. Bahkan keberanian masyarakat untuk belanja offline ke toko fisik sudah mulai meningkat di bulan Juni.
Lihat Juga :