Utang Indonesia Capai Rp7.040 Triliun, Ekonom: Risiko Ini Harus Diantisipasi

Rabu, 13 Juli 2022 - 16:52 WIB
"Satu adalah pengetatan kebijakan moneter secara global, ini membuat penerbitan utang ke depannya ini relatif lebih mahal dari sisi suku bunganya. Ini pemerintah perlu perhatikan jangan sampai kemudian akumulasi utang kedepan meningkatkan beban bunga utang kita secara drastis," ujarnya.

Baca Juga: Soal Utang, Sri Mulyani Pastikan RI Tak Akan Bernasib Seperti Sri Lanka

Lebih lanjut Teuku Riefky menjelaskan, bahwa yang membuat beberapa negara bangkrut yakni, terutama negara dengan tingkat utang yang tinggi dan juga tingkat impor produk-produk energi dan komoditas pangan yang tinggi. Hingga akhirnya menyebabkan negara tersebut mengalami kebangkrutan atau gagal bayar dari hutang yang dimiliki.

"Karena harga impornya tadi kemudian melonjak lalu kemampuan fiskal nya dalam menyerap beban bunga utang ini semakin rendah. Ini juga sebagai dampak lanjutan dari Covid-19," kata Teuku.

Teuku menilai, Republik Indonesia masih dalam negara yang relatif diuntingkan dari situasi juga kondisi saat ini. Menurut ia, sebagian besar negara di seluruh dunia berkutat dalam permasalahan tingginya harga-harga komoditas dan pangan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!