Hati-hati! Tergantung Utang Luar Negeri Bahaya Bagi Ekonomi Nasional

Selasa, 14 Juli 2020 - 18:31 WIB
loading...
Hati-hati! Tergantung...
Ketergantungan terhadap utang luar negeri bahaya bagi ekonomi nasional. Foto/Ilustrasi
A A A
JAKARTA - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menandaskan ketergantungan utang luar negeri akan berdampak negatif bagi perekonomian nasional. Dampak pertama yang ditimbulkan ialah pinjaman dalam bentuk valas akan menyedot supply dolar di dalam negeri.

"Artinya pemerintah harus menyediakan pembayaran bunga utang dan cicilan pokok dengan stok valas yang besar. Wajar jika kurs rupiah menjadi mudah melemah dalam jangka panjang," ujar dia saat dihubungi SINDOnews, di Jakarta, Selasa (14/7/2020).

Baca Juga: Terungkap! Utang Pemerintah Separuh Lebih dari Pinjaman Asing

Kedua, pembiayaan utang luar negeri yang cukup dominan membuat rasio debt to service mengalami peningkatan. "Kalau utangnya valas, ya harus dicari sumber valas. Padahal ditengah situasi pandemi kinerja ekspor dan devisa pariwisata sedang melemah. Implikasinya resiko kemampuan bayar utang makin besar," bebernya.

Lalu Ketiga, arus utang luar negeri menimbulkan resiko portfolio. Pasalnya, investor asing yang beli utang easy in dan easy go akibatnya apabila terjadi penurunan minat pembeli utang valas bisa capital outflow besar besaran.

"Ini kan situasinya ada quantitative easing The Fed yang membuat investor berburu surat utang di negara berkembang. Jika terjadi tappering off, apa dana nya tidak outflow? Apa antisipasinya. Itu yang perlu dipikirkan pemerintah dan BI," tandasnya.

Sementara itu, Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah mengatakan, utang pemerintah tidak bisa dipisahkan dengan kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang merupakan produk dari pemerintah dan DPR.
"Kenaikan utang pemerintah adalah konsekuensi dari defisit apbn yang ditetapkan bersama oleh pemerintah dan DPR," kata Piter.

Disisi lain, defisit APBN terjadi karena terbatasnya pajak yang dibayarkan masyarakat sementara disisi lain belanja pemerintah tinggi untuk proyek-proyek pembangunan, besarnya subsidi dan lain-lain. "Kalau kita memang tidak menginginkan utang pemerintah terus bertambah, pilihannya adalah kita disiplin membayar pajak. Dan kita juga tidak mendorong pemerintah melakukan pembangunan yang melebihi kemampuan pemerintah. Hilangkan subsidi, hilangkan bantuan sosial, dan sebagainya," ujar dia.

Menurut dia, tidak banyak negara yang terus menerus mempertanyakan posisi utang pemerintahnya. Sementara sesungguhnya utang pemerintah Indonesia masih jauh dibawah batas yang dianggap tidak aman. "Jika dibandingkan negara-negara peer utang pemerintah masih sangat rendah," katanya.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Rekomendasi
Stafsus Menag Tinjau...
Stafsus Menag Tinjau GKJ Nusukan Solo, Jamin Kebebasan Beribadah
Terungkap! Andri Mulyono...
Terungkap! Andri Mulyono Kongkalikong dengan PPK untuk Dapat Proyek Pengadaan Motor Listrik BGN
Roy Suryo Titip Pesan...
Roy Suryo Titip Pesan ke Massa Aksi Demo: Jangan Disusupi, Aparat Harus Humanis
Berita Terkini
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan...
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan China, Ekspor Minyak Iran Merosot 80%
SIG Resmikan Fasilitas...
SIG Resmikan Fasilitas Ekspor Tuban, Bidik 450.000 Ton Semen ke AS
Penguatan IHSG dan Rupiah...
Penguatan IHSG dan Rupiah Berlanjut, Pasar Respons Positif Kepastian Posisi Menkeu
Perdana, Danantara Terbitkan...
Perdana, Danantara Terbitkan Obligasi Global Senilai USD1,5 Miliar
Sucofindo Gelar ENSIA...
Sucofindo Gelar ENSIA 2026, Dorong Inovasi Berkelanjutan
Kajian 13 Proyek Hilirisasi...
Kajian 13 Proyek Hilirisasi Rampung Juli, Nilainya Ditaksir Capai Rp239 Triliun
Infografis
7 Universitas Islam...
7 Universitas Islam Negeri Terbaik Masuk Top 100 Nasional Webometrics 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved