Internet of Things Solusi Cerdas Tingkatkan Hasil Panen Petani
Senin, 30 Januari 2023 - 12:31 WIB
loading...
A
A
A
Dan setiap hari pun, pak Timi melakukan penyiraman air dengan irigasi sprinkler. Cukup tekan tombol di HP, air akan tersiram dan memberikan kelembaban bagi tanaman. Sangat mudah dan efisien, karena tidak perlu repot dan tidak lagi harus membayar tenaga kerja untuk penyiraman pupuk dan air.
Setelah berjalan, ada hal unik yang dialami oleh Abah Odang dan Pak Timi. Kalau biasanya pupuk NPK diberikan 1x per minggu, sekarang mereka cukup menyiram NPK 1 kali per bulan. Dengan mengacu pada angka NPK dari IoT, mereka juga bisa menentukan racikan pupuk terbaik dan mencampurnya dengan pupuk organik. Tanah jadi lebih sehat, karena pupuk diberikan tepat sasaran, tidak kurang ataupun lebih, dan mudah terserap tanaman. Abah Odang bisa menghemat pupuk 50% dengan bantuan alat ukur IoT NPK ini.
"Hal unik lainnya adalah dari waktu panen. Bila umumnya tanaman tomat baru panen pada hari ke 83, kali ini Abah Odang bisa mulai panen pada hari ke 63 lebih cepat 3 minggu. Setelah pengecekan, tanamanpun ternyata lebih kuat dan tidak mudah terserang penyakit. Dan setelah panen, mereka berdua kembali mendapatkan surprise baru. Hasil panen berlimpah, 40% lebih banyak ketimbang cara-cara tradisional dan manual," ungkap Gunawan.
Panen meningkat, menghemat pupuk, tanaman menjadi lebih kuat, tanah lebih subur, dan kerja menjadi lebih mudah. Itulah yang dirasakan oleh para petani lanjut usia ini setelah menggunakan IoT NPK.
Rasa heran namun bangga melekat pada mereka. Teknologi digital pertanian ternyata mampu memberikan hasil yang lebih baik, sehingga pendapatan meningkat hingga 240%.
Selesai dengan tomat, mereka mulai menanam timun dan terong. Sama halnya dengan tomat, mereka bisa menghemat pupuk dan mendapatkan panen lebih cepat 1 minggu, dengan hasil panen yang lebih banyak. Kemampuan membaca angka kesuburan tanah dari IoT memberikan perbedaan yang berarti.
Setelah berjalan, ada hal unik yang dialami oleh Abah Odang dan Pak Timi. Kalau biasanya pupuk NPK diberikan 1x per minggu, sekarang mereka cukup menyiram NPK 1 kali per bulan. Dengan mengacu pada angka NPK dari IoT, mereka juga bisa menentukan racikan pupuk terbaik dan mencampurnya dengan pupuk organik. Tanah jadi lebih sehat, karena pupuk diberikan tepat sasaran, tidak kurang ataupun lebih, dan mudah terserap tanaman. Abah Odang bisa menghemat pupuk 50% dengan bantuan alat ukur IoT NPK ini.
"Hal unik lainnya adalah dari waktu panen. Bila umumnya tanaman tomat baru panen pada hari ke 83, kali ini Abah Odang bisa mulai panen pada hari ke 63 lebih cepat 3 minggu. Setelah pengecekan, tanamanpun ternyata lebih kuat dan tidak mudah terserang penyakit. Dan setelah panen, mereka berdua kembali mendapatkan surprise baru. Hasil panen berlimpah, 40% lebih banyak ketimbang cara-cara tradisional dan manual," ungkap Gunawan.
Panen meningkat, menghemat pupuk, tanaman menjadi lebih kuat, tanah lebih subur, dan kerja menjadi lebih mudah. Itulah yang dirasakan oleh para petani lanjut usia ini setelah menggunakan IoT NPK.
Rasa heran namun bangga melekat pada mereka. Teknologi digital pertanian ternyata mampu memberikan hasil yang lebih baik, sehingga pendapatan meningkat hingga 240%.
Selesai dengan tomat, mereka mulai menanam timun dan terong. Sama halnya dengan tomat, mereka bisa menghemat pupuk dan mendapatkan panen lebih cepat 1 minggu, dengan hasil panen yang lebih banyak. Kemampuan membaca angka kesuburan tanah dari IoT memberikan perbedaan yang berarti.
Lihat Juga :