Masyarakat Harus Miliki Akses dan Hak atas Energi Listrik
Sabtu, 11 Maret 2023 - 18:27 WIB
loading...
A
A
A
“Tentunya memerlukan waktu dan tidak bisa tergesa-gesa karena jika PLTU-PLTU itu langsung dimatikan untuk dikonversi ke EBT, maka tidak ada lsitrik dan tidak akan ada peradaban tanpa ada energi,” katanya.
Sementara dari sisi tarif, PLTA Batang Toru memiliki keekonomian yang tinggi karena lebih murah dibanding penggunaan energi yang ada. “Saat ini tarif PLTA Batangtoru USD12,86 sen dólar per KWh atau sekitar Rp1.900, sementara solar Rp2.500 dan gas Rp2.200. PLN sendiri menjual listrik kepada masyarakat Rp1.400, yang tentu saja rugi, tapi itu bukti negara hadir untuk melayani masyarakat,” ujarnya.
Weddy yang sudah berkecimpung dalam pengembangan PLTA selama 15 tahun, menepis tudingan potensi kerusakan alam akibat pembangunan PLTA Batang Toru “Logikanya, penggunaan energi bersih harus diikuti konservasi, karena energi bersih tidak akan ada kalau alamnya rusak. Ini juga berlaku bagi pembangunan PLTA Batang Toru yang pembangunannya membutuhkan dana sangat besar. Proses pembangunan yang lama, maka supaya bisa terus berjalan, maka catchment areanya atau daerah resapan airnya harus dijaga,” ujarnya.
Dengan demikian PLTA Batang Toru juga berkewajiban untuk menjaga kelestarian ekosistem. Bukan saja di lokasi PLTA, namun juga kelestarian alam seluruh ekosistem terutama di hulunya. “Kami sudah melihat PLTA Batang Toru sudah memiliki mitigasi untuk konservasi dan menjaga ekosistem Batang Toru,” katanya.
Terkait banyaknya topik, sebaiknya ada diskusi khusus per topik agar memiliki perspektif yang sama. “Kami juga memahami adanya concern masyarakat yang kuat soal orangutan tapanuli dan berbagai isu lain yang muncul. Untuk itu, kami berharap dapat duduk bersama dan berdiskusi dengan materi tersendiri sehingga dapat memperoleh perspektif yang sama,” ujar Weddy.
Sementara dari sisi tarif, PLTA Batang Toru memiliki keekonomian yang tinggi karena lebih murah dibanding penggunaan energi yang ada. “Saat ini tarif PLTA Batangtoru USD12,86 sen dólar per KWh atau sekitar Rp1.900, sementara solar Rp2.500 dan gas Rp2.200. PLN sendiri menjual listrik kepada masyarakat Rp1.400, yang tentu saja rugi, tapi itu bukti negara hadir untuk melayani masyarakat,” ujarnya.
Weddy yang sudah berkecimpung dalam pengembangan PLTA selama 15 tahun, menepis tudingan potensi kerusakan alam akibat pembangunan PLTA Batang Toru “Logikanya, penggunaan energi bersih harus diikuti konservasi, karena energi bersih tidak akan ada kalau alamnya rusak. Ini juga berlaku bagi pembangunan PLTA Batang Toru yang pembangunannya membutuhkan dana sangat besar. Proses pembangunan yang lama, maka supaya bisa terus berjalan, maka catchment areanya atau daerah resapan airnya harus dijaga,” ujarnya.
Dengan demikian PLTA Batang Toru juga berkewajiban untuk menjaga kelestarian ekosistem. Bukan saja di lokasi PLTA, namun juga kelestarian alam seluruh ekosistem terutama di hulunya. “Kami sudah melihat PLTA Batang Toru sudah memiliki mitigasi untuk konservasi dan menjaga ekosistem Batang Toru,” katanya.
Terkait banyaknya topik, sebaiknya ada diskusi khusus per topik agar memiliki perspektif yang sama. “Kami juga memahami adanya concern masyarakat yang kuat soal orangutan tapanuli dan berbagai isu lain yang muncul. Untuk itu, kami berharap dapat duduk bersama dan berdiskusi dengan materi tersendiri sehingga dapat memperoleh perspektif yang sama,” ujar Weddy.
(dar)
Lihat Juga :