Pemerintah Dinilai Sengaja Tahan Harga BBM demi Tambal APBN

Minggu, 24 Januari 2016 - 18:24 WIB
Pemerintah Dinilai Sengaja...
Pemerintah Dinilai Sengaja Tahan Harga BBM demi Tambal APBN
A A A
JAKARTA - Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara mengatakan, saat ini sebetulnya pemerintah untung banyak lewat penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) di tengah merosotnya harga minyak mentah dunia yang sempat menyentuh level di bawah USD30 per barel. Dia mengkhawatirkan keuntungan dari hasil jual BBM akan digunakan untuk menambal defisit APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara).

Dia menjelaskan defisit APBN 2015 memang besar ‎sekitar Rp300 triliun. Dalam APBN asumsi untuk harga minyak dunia sebagai acuan harga BBM Indonesia disebutkan USD50-USD60 per barel. Sedangkan saat ini harga minyak dunia sudah di bawah itu.

"Jika pemerintah tidak turunkan harga BBM, maka saya khawatir dana ini akan digunakan untuk menambal defisit APBN kemarin.‎ Biaya yang seharusnya turun, malah naik. Ini jelas pemerintah tidak bisa mengelola," jelasnya di Gedung Dewan Pers Jakarta, Minggu (24/1/2016).

(Baca Juga: Pertamina Dituding Tahan Harga BBM Saat Minyak Dunia Ambruk)

Menurutnya yang jadi kekhawatiran juga dalam kondisi APBN yang sudah tertekan, harga BBM ke masyarakat tidak diturunkan dan keuntungan disimpan untuk jadi dana stabilisasi namun pemerintah tidak berusaha transparan.

"Dana stabilisasi itu, kalau tidak transparan takutnya diselewengkan. Disini sebenarnya jadi tidak adil, karena masyarakat dibebankan untuk sesuatu yang seharusnya tidak mereka keluarkan, misalnya membantu nambal defisit APBN yang begitu besar," sambungnya.

(Baca Juga: Soal Harga BBM, Pertamina Disebut Tak Terbuka)

Diterangkan fakta yang terjadi dari sisi pajak, untungnya hanya 82%, kemudian untuk penerimaan migas (minyak dan gas) sekitar 60 sampai 70% ditambah cost recovery naik sehingga defisit makin besar. Menurutnya ini dijadikan kedok pemerintah untuk tidak menurunkan harga BBM.

"Ada kesempatan menjual harga BBM yang tidak diturunkan. Ini dipakai untuk menambal dan untuk dana stabilisasi yang kita tidak tahu transparan atau tidak. Tapi kita harap tidak seperti itu. Kita mau supaya transparan dalam menghitung harga BBM dan savingnya dipakai untuk menolong masyarakat saat harga minyak dunia naik," pungkasnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Harga BBM Pertamina...
Harga BBM Pertamina Naik Mulai Maret 2026, Ini Daftar Terbarunya
3 Jenis BBM Pertamina...
3 Jenis BBM Pertamina Naik, Intip Perbandingan Harga dengan Shell, Vivo dan BP
BBM Nonsubsidi Naik...
BBM Nonsubsidi Naik Drastis per 18 April 2026, Mobil Premium dan Pajero-Fortuner Paling Boncos!
Pemanfaatan BBM Subsidi...
Pemanfaatan BBM Subsidi Selama Ini Dinilai Salahi Prinsip Keadilan
Kenaikan BBM Mendadak,...
Kenaikan BBM Mendadak, SPBU di Gunungkidul Pilih Tutup hingga Mesin Disesuaikan Harga
Harga BBM Naik, Isi...
Harga BBM Naik, Isi Tangki Full City Car Honda Brio Butuh Setengah Juta Rupiah
Berita Terkini
Menkeu Purbaya: Panda...
Menkeu Purbaya: Panda Bond Indonesia Dapat Dukungan Penuh Bank Sentral China
4 jam yang lalu
Cetak Sejarah, Hanasui...
Cetak Sejarah, Hanasui Jadi Serum Indonesia Pertama yang Diekspor ke Jepang
5 jam yang lalu
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
5 jam yang lalu
OJK Rilis Daftar Direksi...
OJK Rilis Daftar Direksi BEI Baru, Ada 7 Direktur Terpilih
6 jam yang lalu
APKB Dorong Penyempurnaan...
APKB Dorong Penyempurnaan Regulasi Kawasan Berikat: Menjaga Daya Saing Industri dan Investasi
6 jam yang lalu
PLN EPI Tuntaskan Hot...
PLN EPI Tuntaskan Hot Tap WNTS-Pemping, Gas Natuna Siap Mengalir ke Dalam Negeri
6 jam yang lalu
Infografis
10 Negara Menaikkan...
10 Negara Menaikkan Harga BBM Akibat Perang AS-Iran, Banyak Tetangga RI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved