Pembangunan KA Trans Sumatra Bisa Tumbuhkan Ekonomi Kawasan

Kamis, 10 Agustus 2023 - 17:44 WIB
loading...
Pembangunan KA Trans...
Pembangunan KA Trans Sumatra bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Kereta api reguler (biasa) berbasis rel dinilai mampu menghidupkan perekonomian dengan mengangkut penumpang dan logistik (barang) dengan jumlah besar, sehingga bisa menumbuhkan dan menghidupkan perekonomian di wilayah Sumatra. Pandangan itu diungkapkan oleh pengamat kebijakan publik Bambang Haryo Soekartono (BHS) saat meninjau operasional kereta api Stasiun Kertapati, Kota Palembang, Sabtu lalu (5/8/2023).

Baca juga: Survei BI Ungkap Optimisme Konsumen Terhadap Perekonomian Tetap Kuat di Juli 2023 Untuk saat ini masih tersisa sekitar 1.300 kilometer yang belum terhubungkan rel kereta api dari sekitar 3.500 kilometer panjang rel Trans Sumatra. Harusnya ini menjadi prioritas utama bagi pembangunan yang ada di wilayah Sumatra, bukan kereta cepat atau LRT.

"Dan untuk membangun 1.300 kilometer membutuhkan biaya sekitar Rp40 triliun dengan harga per kilometer rel rata rata sekitar Rp30-40 miliar. Harga tersebut setara dengan 3 kalilipat biaya pembangunan LRT di Palembang yang hanya menghasilkan pendapatan untuk saat ini sebesar Rp15 miliar per tahun," kata BHS, dalam keterangannya, Kamis (10/8/2023).

Alumni ITS Surabaya ini juga mengatakan, sebagai contoh, angkutan kereta api di jalur Palembang-Lampung dengan jarak sekitar 230 kilometer saat ini sudah mengoperasikan 3 rangkaian kereta penumpang. Setiap rangkaian terdiri dari 10 gerbong penumpang dengan kapasitas 60 tempat duduk pergerbong yang total menghasilkan per tahunnya sekitar Rp50 miliar rupiah dengan asumsi setiap keberangkatan load factor rata rata sekitar 70%.

Pembangunan KA Trans Sumatra Bisa Tumbuhkan Ekonomi Kawasan

BHS saat mengunjung jalur KA Trans Sumatra

Di lintasan tersebut juga mengoperasikan 60 rangkaian kereta barang per hari, yang setiap rangkaian kereta terdiri dari 61 gerbong barang yang bermuatan 50 ton setiap gerbong, sehingga per harinya terangkut sekitar 186 ribu ton barang (Data dari KAI Pusat dan KAI Sumatra Selatan) yang nilainya jauh lebih besar daripada pendapatan LRT per tahunnya.

"Apalagi keberangkatan dari Palembang juga ada yang menuju ke Lubuklinggau arah utara Palembang yang berjarak sekitar 300 kilometer dengan jumlah rangkaian kereta penumpang dan barang jauh lebih besar daripada yang menuju ke Lampung," jelas BHS.

Load factor kepadatan rangkaian ini masih bisa dimaksimalkan dengan penambahan rangkaian kereta api di jalur tersebut dan ini jelas bisa berfungsi untuk memindahkan kepadatan jalan raya di angkutan penumpang dan logistik. Tentunya juga bisa menghemat biaya kerusakan infrastruktur akibat angkutan ODOL serta mengurangi jumlah kecelakaan di jalan raya, dan juga bisa menumbuhkan ekonomi secara cepat karena dihidupkannya transportasi super massal penumpang dan logistik kereta api.

Baca juga: Prof Romli Sebut Oknum TNI Geruduk Polrestabes Medan Lakukan Obstruction of Justice

"Apalagi kalau kita merealisasikan pembangunan rel Sumatra, maka tidak hanya PT KAI bisa membiayai investasi relnya tetapi juga bisa menumbuhkan ekonomi wilayah-wilayah yang saat ini belum terhubungkan dengan rel kereta api di sepanjang rel trans Sumatra," tandas anggota DPR RI periode 2014-2019 ini.

(uka)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Terungkap Penyebab Padam...
Terungkap Penyebab Padam Listrik Massal di Sumatera: Cuaca Buruk hingga Efek Banjir Bandang
Sumatera Blackout, InJourney...
Sumatera Blackout, InJourney Pastikan Bandara Beroperasi Normal
4,8 Juta Pelanggan PLN...
4,8 Juta Pelanggan PLN di Pulau Sumatera Masih Terdampak Mati Listrik Serempak
Gangguan Transmisi 275...
Gangguan Transmisi 275 kV Jadi Penyebab Listrik Padam di Sumatera
Listrik Padam Massal...
Listrik Padam Massal di Sumatera hingga Aceh, Tim Teknis PLN Telusuri Penyebabnya
Hindari Blokade AS,...
Hindari Blokade AS, Iran Alihkan Perdagangan ke Jalur Kereta Api China
BNPB Petakan Karhutla...
BNPB Petakan Karhutla di Sejumlah Wilayah, Sumatera dan Kalimantan Mendominasi
KAI Jadi Benchmark Layanan...
KAI Jadi Benchmark Layanan Publik Indonesia, Dinilai Mampu Bersaing secara Global
Inul Daratista Geram...
Inul Daratista Geram Dituding Gila Hormat, Ungkap Alasan Petugas KAI Melayani Sambil Jongkok
Rekomendasi
Jalan Terjal Iran di...
Jalan Terjal Iran di Piala Dunia 2026: Visa Ditolak dan dalam Kepungan Senjata
Gulkarmat Jakarta Evakuasi...
Gulkarmat Jakarta Evakuasi 26 Penumpang Kapal di Perairan Kepulauan Seribu
Trump Cari Jalan Keluar...
Trump Cari Jalan Keluar Secepatnya untuk Hindari Dampak Politik dan Ekonomi Perang Iran
Berita Terkini
Rusia Perluas Kuota...
Rusia Perluas Kuota Kuliah Gratis, Cetak Ahli Minyak hingga IT dari Indonesia
Harga Pertamax Melejit...
Harga Pertamax Melejit Jadi Rp16.250, Kelas Menengah Kian Terjepit
Pertamina EP Cepu Catat...
Pertamina EP Cepu Catat Kinerja Positif, Siap Percepat Transisi Energi
Penyaluran Pindar Tembus...
Penyaluran Pindar Tembus Rp1.388 Triliun, 40% Mengalir ke UMKM
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Naik Tipis, Segram Jadi Rp2,71 Juta
Free Float Sentuh 25,7%,...
Free Float Sentuh 25,7%, Saham TPIA Kian Menarik Investor Global
Infografis
Waspada! 4 Makanan Ini...
Waspada! 4 Makanan Ini Bisa Picu Kesemutan di Tangan dan Kaki
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved