alexa snippet

Kepala Bappenas: Pembangunan MRT Bisa Meniru Hong Kong

Kepala Bappenas: Pembangunan MRT Bisa Meniru Hong Kong
Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro. Foto/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan pembangunan MRT di Jakarta bukan untuk gagah-gagahan agar ibu kota sejajar dengan kota-kota besar lainnya di dunia.

Pembangunan Mass Rapid Transit merupakan ikhtiar pemerintah untuk mereduksi kemacetan di Jakarta yang semakin hari semakin parah. Bahkan Jakarta merupakan salah satu kota termacet di dunia.

Dalam kunjungannya ke pembangunan Proyek MRT, di Stasiun 13 yang berada di kawasan Bunderan HI Jalan Sudirman, Bambang berujar sejatinya solusi untuk mengatasi kemacetan itu banyak alternatifnya. Namun yang paling penting adalah perbaikan sistem transportasi massal. "Pembangunan MRT ini menjadi bagian dari upaya memperbaiki sistem transportasi massal," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (20/3/2017).

Bambang berharap, jika pembangunan MRT sudah rampung, warga Jakarta turut mendukung dengan cara meninggalkan kendaraaan pribadi dan beralih ke transportasi massal. Dengan demikian dapat mengurangi kemacetan dan dan menjadikan kegiatan aktivitas sehari-hari lebih produktif dan lebih efisien.

Keberadaan MRT sendiri bukan sekadar alat transportasi, juga sarana pendorong pengembangan dan aktivitas ekonomi di Jakarta. Pasalnya nanti di stasiun-stasiun MRT bisa dikembangkan sebagai pusat bisnis dan perbelanjaan.

Untuk itu, Bambang ingin mencontoh pengembangan MRT di Jakarta mirip seperti di Hong Kong, yang merupakan best practice pengelolaan MRT. Pengelolaan dan pengembangan MRT di Hong Kong bisa dibiayai oleh kegiatan MRT sendiri dengan cara menggandeng pemilik properti di seputar rel melalui konsep transit oriented development (TOD).

Setiap stasiun MRT di Hong Kong, tidak hanya mengakomodasi pusat perbelanjaan, juga dibangun properti seperti perumahan, baik perumahan kelas menengah, kelas atas, maupun low cost housing yang bisa mendatangkan pemasukan. Dari pemasukan tersebut, MRT Hong Kong membiayai kegiatan operasionalnya sendiri.

“Bahkan laporan akhir yang saya dengar, mereka mendapatkan untung dan levelnya sudah triliunan rupiah,” ujar Bambang.

Kisah sukses skema pengelolaan MRT dengan konsep TOD yang dikembangkan di Hong Kong, menurut Bambang, patut dipertimbangkan sebagai model. Karena Indonesia juga ingin ada dampak ekonomi dari keberdaan MRT.

Alhasil tujuan MRT bukan hanya sekadar alat transportasi semata, juga sebagai sarana mendorong perekonomian Jakarta. Untuk bisa menjalankan model TOD yang benar, ada baiknya MRT Jakarta juga belajar dari pengeloaan MRT di Hong Kong.

Untuk itu, Bambang berharap MRT Jakarta mulai mengeksplorasi kemungkinan pengembangan TOD di sepanjang wilayah yang akan dilewati oleh MRT, yaitu mulai dari fase I kemudian ke fase MRT penghubung Barat-Timur.



(ven)
loading gif
Top