Harga Minyak Naik Karena Gangguan Pasokan di Libya
Rabu, 29 Maret 2017 - 10:18 WIB
Harga Minyak Naik Karena Gangguan Pasokan di Libya
A
A
A
SINGAPURA - Harga minyak pada perdagangan Rabu (29/3) mengambil keuntungan dibanding sesi sebelumnya karena ada gangguan pasokan di Libya. Dan kondisi ini semakin bertambah karena OPEC akan memperpanjang pemotongan produksi hingga akhir 2017.
Mengutip dari Reuters, Rabu ini, harga minyak mentah berjangka Brent International meningkat 14 sen menjadi USD51,47 per barel pada pukul 01.27 GMT. Sementara harga minyak mentah Amerika Serikat, West Texas Intermediate naik 20 sen menjadi USD48,57 per barel. Kedua acuan harga minyak dunia ini naik lebih dari 1% dibanding kemarin.
Kondisi ladang minyak Libya bagian barat yaitu Sharara dan Wafa telah diblokir oleh kelompok bersenjata, sehingga mengganggu produksi. Sumber di perusahaan nasional minyak Libya mengatakan kepada Reuters, bahwa kejadian tersebut membuat produksi minyak berkurang 252.000 barel per hari.
“Kondisi Libya bersamaa dengan pernyataan Menteri Perminyakan Iran yang setuju dengan rencana OPEC untuk memperpanjang pemangkasan produksi demi membantu reli harga minyak,” ujar Greg McKenna, kepala strategi pasar di bursa berjangka AxiTrader.
Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) bersama dengan produsen lain non-OPEC, termasuk Rusia, telah sepakat untuk mengurangi produksi hampir 1,8 juta barel per hari pada paruh pertama tahun 2017 demi menopang harga setelah dua tahun belakangan kelebihan pasokan.
Namun karena pasar tetap membengkak, akibat dua tahun terakhir yang penuh dengan peningkatan produksi, membuat pemotongan ini diperpanjang hingga akhir tahun 2017. Hanya saja strategi untuk mengembalikan keseimbangan pasar minyak ini bukan tanpa kontroversi.
Saat OPEC dan Arab Saudi memangkas produksi mereka, produsen lain mengambil pangsa pasar ini demi mengisi kesenjangan pasokan. Amerika Serikat, salah satu negara produsen dan konsumen minyak, telah meningkatkan produksinya demi ekspor.
Meski ada perbedaan pandangan politik selama ini, tetapi China merupakan tujuan ekspor minyak dari Amerika Serikat sejak 2016. Data Administrasi Informasi Energi (EIA) bahwa AS merupakan negara eksportir minyak ketiga terbesar China, naik dari posisi kesembilan pada tahun sebelumnya.
“Pada 2016, ekspor minyak mentah AS rata-rata 520.000 barel per hari, naik 12% dibanding tahun 2015. Dengan produksi minyak AS yang naik tajam tahun ini, maka ekspor Amerika bisa melonjak pada 2017,” kata EIA.
Mengutip dari Reuters, Rabu ini, harga minyak mentah berjangka Brent International meningkat 14 sen menjadi USD51,47 per barel pada pukul 01.27 GMT. Sementara harga minyak mentah Amerika Serikat, West Texas Intermediate naik 20 sen menjadi USD48,57 per barel. Kedua acuan harga minyak dunia ini naik lebih dari 1% dibanding kemarin.
Kondisi ladang minyak Libya bagian barat yaitu Sharara dan Wafa telah diblokir oleh kelompok bersenjata, sehingga mengganggu produksi. Sumber di perusahaan nasional minyak Libya mengatakan kepada Reuters, bahwa kejadian tersebut membuat produksi minyak berkurang 252.000 barel per hari.
“Kondisi Libya bersamaa dengan pernyataan Menteri Perminyakan Iran yang setuju dengan rencana OPEC untuk memperpanjang pemangkasan produksi demi membantu reli harga minyak,” ujar Greg McKenna, kepala strategi pasar di bursa berjangka AxiTrader.
Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) bersama dengan produsen lain non-OPEC, termasuk Rusia, telah sepakat untuk mengurangi produksi hampir 1,8 juta barel per hari pada paruh pertama tahun 2017 demi menopang harga setelah dua tahun belakangan kelebihan pasokan.
Namun karena pasar tetap membengkak, akibat dua tahun terakhir yang penuh dengan peningkatan produksi, membuat pemotongan ini diperpanjang hingga akhir tahun 2017. Hanya saja strategi untuk mengembalikan keseimbangan pasar minyak ini bukan tanpa kontroversi.
Saat OPEC dan Arab Saudi memangkas produksi mereka, produsen lain mengambil pangsa pasar ini demi mengisi kesenjangan pasokan. Amerika Serikat, salah satu negara produsen dan konsumen minyak, telah meningkatkan produksinya demi ekspor.
Meski ada perbedaan pandangan politik selama ini, tetapi China merupakan tujuan ekspor minyak dari Amerika Serikat sejak 2016. Data Administrasi Informasi Energi (EIA) bahwa AS merupakan negara eksportir minyak ketiga terbesar China, naik dari posisi kesembilan pada tahun sebelumnya.
“Pada 2016, ekspor minyak mentah AS rata-rata 520.000 barel per hari, naik 12% dibanding tahun 2015. Dengan produksi minyak AS yang naik tajam tahun ini, maka ekspor Amerika bisa melonjak pada 2017,” kata EIA.
(ven)
Lihat Juga :