alexa snippet

Why Startup Fails?

Why Startup Fails?
A+ A-
YUSWOHADY
Managing Partner, Inventure www.yuswohady.com

KENAPA startup gagal mencapai sustainable profit ... layu sebelum berkembang? Yang banyak terjadi, begitu diluncurkan respons dari konsumen tak cukup kuat, target omzet tak tercapai, dan pelan, tapi pasti produk undur diri dari pasar dan akhirnya menghilang.

Umumnya, si entrepreneur begitu over-confidence terhadap value proposition yang ia tawarkan. Tapi, begitu produk meluncur di pasar, keyakinan yang menggebu-gebu itu langsung pupus. Skenario kesuksesan yang ada di kepala si entrepreneur ternyata berbeda 180 derajat dengan apa yang terjadi di pasar. Banyak juga terjadi di mana awalnya produk mengalami sukses luar biasa.

Saat peluncuran konsumen begitu bersemangat untuk menjadi early adopters untuk mencoba konsep yang breakthrough dari produk. Namun, celaka, itu hanya bertahan 3-6 bulan pertama.

Setelah itu, pelan, tapi pasti konsumen hengkang dan pertumbuhan mulai flat. Memang tak gagal sepenuhnya, tapi pertumbuhan omzet seperti ogah-ogahan, tak memenuhi harapan si entrepreneur dan investor.

Ini tanda-tanda startup tersebut terjebak ke dalam "classic startup trap", yaitu kondisi di mana startup tersebut terjebak dalam pertumbuhan datar dan tak cukup kapasitas untuk di-scalling-up. Kalau sudah masuk perangkap seperti ini, mau dibunuh sayang, tapi kalau enggak dibunuh, kok tak kunjung menggeliat. Startup tersebut stagnan dan terus menjadi liliput.

Good Plan

Kegagalan startup biasanya terjadi karena strategi dan perencanaannya terlalu canggih. (Ingat: "too much strategy will kill you"). Produk dibangun dan diluncurkan melalui perencanaan yang solid, sistematis, dan rigid menggunakan konsep-konsep bisnis dari pakar-pakar kelas dunia. Rasanya paling benar dan over-confidence kalau kita sudah menggunakan konsep-konsep dari pakar kelas dunia.

Si entrepreneur menggunakan pendekatan scientific management yang ndakik-ndakik, sehingga terlalu fokus ke teori dan tips para pakar dan silau dengan dinamika riil yang terjadi di pasar. Yang dipentingkan si entrepreneur adalah "compliance" kepada teori dari pakar, bukan mencermati detail-detail perkembangan aktual di pasar.

Kesalahan terbesar dari pendekatan semacam ini adalah selama penyusunan strategi si entrepreneur tak "menceburkan" produk ke pasar. Feedback pasar dan perilaku konsumen diperoleh melalui riset pasar (FGD atau kuesioner) yang fake.

Saya sebut fake karena tak mencerminkan apa yang sesungguhnya terjadi di pasar. Akibat itu, begitu produk meluncur ke pasar, seluruh skenario yang dituangkan dalam strategi yang ndakik-ndakik itu gagal total. Apa yang ditulis di kertas dan whiteboard ternyata tak sama indahnya dengan yang ada di pasar. Produk pun flop di pasar.

"Just Do It"

Sebab, kegagalan yang kedua adalah kondisi sebaliknya. Kalau di kasus yang pertama si entrepreneur menggunakan strategi yang ndakik-ndakik, di sini ia sama sekali tak menggunakan strategi alias menggunakan "jurus mabuk".

Kalau Nike bilang: "just do it" strategy. Argumentasinya, di tengah situasi bisnis yang serba disruptive, volatile, unpredictable, dan chaotic saat ini strategi dan perencanaan bukanlah solusi.
halaman ke-1 dari 2
loading gif
Top