Ganjar Creasi Edukasi Petani Buat Pupuk Hayati dan Budi Daya Cabai
Jum'at, 03 November 2023 - 08:30 WIB
loading...
Ganjar Creasi menggelar pelatihan membuat pupuk hayati untuk membudidayakan cabai bagi sejumlah petani di Gedangan, Malang, Jatim. FOTO/dok.SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Generasi Alumni Muda Universitas Brawijaya (UB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Airlangga (Unair) yang tergabung dalam sukarelawan Ganjar Creasi (G-Creasi) mengedukasi petani melalui pelatihan-pelatihan yang bermanfaat di beberapa wilayah Jawa Timur (Jatim).
Kali ini, loyalis Ganjar Pranowo tersebut menggelar pelatihan membuat pupuk hayati untuk membudidayakan cabai bagi sejumlah petani di Gedangan, Malang, Jatim. Perwakilan Koordinator Ganjar Creasi Jatim Ahmad Anwar As Sidiq mengatakan pihaknya sengaja menggelar pelatihan ini di wilayah tersebut karena mayoritas warga adalah petani cabai.
Baca Juga: Relawan Ganjar-Mahfud Gagas PINK Movement, Serukan 2024 Atikoh Ibu Negara
Ganjar Creasi ingin mengedukasi petani agar mulai beralih dari pupuk kimia ke pupuk hayati. "Yang lebih utama, ketergantungan pupuk kimia. Tujuannya, untuk mengurangi pupuk kimia dengan alternatif penggunaan pupuk hayati," kata dia melalui siaran pers, Jumat (3/11/2023).
Caranya, sejumlah petani ini diajari membuat pupuk hayati berbahan dasar akar bambu, kecambah, air, pollard, air gula merah, dan dedak. Bahan-bahan tersebut terhitung mudah didapat dan harganya murah jika dibandingkan dengan pupuk kimia sehingga lebih ekonomis. Kemudian, dampak dan manfaat penggunaan pupuk hayati ini sangat terasa.
Kali ini, loyalis Ganjar Pranowo tersebut menggelar pelatihan membuat pupuk hayati untuk membudidayakan cabai bagi sejumlah petani di Gedangan, Malang, Jatim. Perwakilan Koordinator Ganjar Creasi Jatim Ahmad Anwar As Sidiq mengatakan pihaknya sengaja menggelar pelatihan ini di wilayah tersebut karena mayoritas warga adalah petani cabai.
Baca Juga: Relawan Ganjar-Mahfud Gagas PINK Movement, Serukan 2024 Atikoh Ibu Negara
Ganjar Creasi ingin mengedukasi petani agar mulai beralih dari pupuk kimia ke pupuk hayati. "Yang lebih utama, ketergantungan pupuk kimia. Tujuannya, untuk mengurangi pupuk kimia dengan alternatif penggunaan pupuk hayati," kata dia melalui siaran pers, Jumat (3/11/2023).
Caranya, sejumlah petani ini diajari membuat pupuk hayati berbahan dasar akar bambu, kecambah, air, pollard, air gula merah, dan dedak. Bahan-bahan tersebut terhitung mudah didapat dan harganya murah jika dibandingkan dengan pupuk kimia sehingga lebih ekonomis. Kemudian, dampak dan manfaat penggunaan pupuk hayati ini sangat terasa.
Lihat Juga :