Saat Ekonomi Israel Terancam Bangkrut, Kekayaan Kaum Miliarder Yahudi Capai Rp27.000 Triliun: Bisa Jadi Juru Selamat?
Minggu, 26 November 2023 - 15:23 WIB
loading...
A
A
A
Sektor ekonomi Israel lainnya yang juga terganggu adalah pariwisata dan bisnis konstruksi mangkrak. Tak pelak dunia usaha terganggu sehingga menciptakan pengangguran yang membeludak.
Kementerian Tenaga Kerja Israel melaporkan bahwa 764.000 warga negara, hampir seperlima dari angkatan kerja Israel, menganggur karena evakuasi, penutupan sekolah yang mewajibkan tanggung jawab pengasuhan anak, atau panggilan tugas cadangan.
Semua kondisi itu mencuatkan pandangan bahwa ekonomi Israel mengarah pada kebangkrutan. Indikasinya, enam kementerian Israel belum lama ini ditutup. Enam kementerian itu adalah Kementerian Urusan Diaspora, Kementerian Urusan Yerusalem, Kementerian Warisan Budaya, Kementerian Pemukiman dan Misi Nasional, Kementerian Kooperasi Regional, dan Kementerian Kesetaraan Sosial.
Pertanyaannya apakah ekonomi Israel benar-benar bisa bangkrut? Apakah Israel akan kekeringan sumber duit untuk membiayai perang, atau bahkan ekonominya?
Harap dicatat, bahwa beberapa hari setelah operasi Badai Al Aqsa mengguncang Israel, sejumlah perusahaan global dengan lantang menyatakan akan memberikan donasi ke negara itu. Ada Meta, Google, Paramout, Disnes, dan masih banyak lagi. Perusahaan-perusahaan itu umumnya dimiliki oleh kaum Yahudi.
Tampaknya, jika kaum triliuner Yahudi harus menyokong ekonomi Israel, bukanlah perkara berat. Yahudi merupakan kaum yang memiliki triliuner paling banyak di dunia dan kekayaannya paling gede di kolong langit.
Forbes pada Fabruari lalu mengungkap, ada 267 orang Yahudi yang masuk dalam daftar orang terkaya di dunia. Mereka berasal dari berbagai negara dan juga bidang usaha.
Miliarder Yahudi "paling miskin" memiliki kekayaan USD1 miliar atau sekitar Rp15,5 triliun. Sedangkan yang paling tajir, kekayaannya menembus USD102,9 miliar atau Rp1.543,5 triliun.
Kementerian Tenaga Kerja Israel melaporkan bahwa 764.000 warga negara, hampir seperlima dari angkatan kerja Israel, menganggur karena evakuasi, penutupan sekolah yang mewajibkan tanggung jawab pengasuhan anak, atau panggilan tugas cadangan.
Semua kondisi itu mencuatkan pandangan bahwa ekonomi Israel mengarah pada kebangkrutan. Indikasinya, enam kementerian Israel belum lama ini ditutup. Enam kementerian itu adalah Kementerian Urusan Diaspora, Kementerian Urusan Yerusalem, Kementerian Warisan Budaya, Kementerian Pemukiman dan Misi Nasional, Kementerian Kooperasi Regional, dan Kementerian Kesetaraan Sosial.
Pertanyaannya apakah ekonomi Israel benar-benar bisa bangkrut? Apakah Israel akan kekeringan sumber duit untuk membiayai perang, atau bahkan ekonominya?
Harap dicatat, bahwa beberapa hari setelah operasi Badai Al Aqsa mengguncang Israel, sejumlah perusahaan global dengan lantang menyatakan akan memberikan donasi ke negara itu. Ada Meta, Google, Paramout, Disnes, dan masih banyak lagi. Perusahaan-perusahaan itu umumnya dimiliki oleh kaum Yahudi.
Tampaknya, jika kaum triliuner Yahudi harus menyokong ekonomi Israel, bukanlah perkara berat. Yahudi merupakan kaum yang memiliki triliuner paling banyak di dunia dan kekayaannya paling gede di kolong langit.
Forbes pada Fabruari lalu mengungkap, ada 267 orang Yahudi yang masuk dalam daftar orang terkaya di dunia. Mereka berasal dari berbagai negara dan juga bidang usaha.
Miliarder Yahudi "paling miskin" memiliki kekayaan USD1 miliar atau sekitar Rp15,5 triliun. Sedangkan yang paling tajir, kekayaannya menembus USD102,9 miliar atau Rp1.543,5 triliun.
Lihat Juga :