Harga Beras Naik Gila-gilaan, Produksi RI Minus 2,8 Juta Ton
Senin, 12 Februari 2024 - 14:32 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Harga Beras Tak Kunjung Turun, Ganjar: Perlu Intervensi Pemerintah
Namun Arief menegaskan. bahwa importasi yang dilakukan sangat terukur sesuai dengan kebutuhan sehingga tidak mengganggu harga di tingkat petani. “Salah satu indikasinya bisa dilihat dari NTPP saat ini adalah yang tertinggi senilai 116,16. Ini yang membuat petani kita semangat untuk menanam,” ujarnya.
Sementara itu Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) mengungkap harga beras medium saat ini terkerek di level Rp13.500 per kilo. Sedangkan beras premium sudah menyentuh harga Rp18.500 per kilo. Harga tersebut jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
Sekretaris Jenderal DPP IKAPPI Reynaldi Sarijowan mengungkap, persoalan harga beras yang tak kunjung menyentuh HET ini disebabkan beberapa faktor. Ia menilai saat ini pemerintah tidak serius dalam pengelolaan beras sejak musim tanam tahun 2022 hingga saat ini, sehingga produktivitas beras datanya simpang siur.
IKAPPI mendorong agar pemerintah berhati-hati dengan lonjakan harga beras dan kelangkaan yang terjadi di pasar tradisional. "Ini penting karena ini momen politik, musim pemilu sehingga banyak beras yang di ambil diluar pasar tradisional atau produsen besar. Ini yang harus di jaga oleh pemerintah untuk ke depan," terangnya.
Namun Arief menegaskan. bahwa importasi yang dilakukan sangat terukur sesuai dengan kebutuhan sehingga tidak mengganggu harga di tingkat petani. “Salah satu indikasinya bisa dilihat dari NTPP saat ini adalah yang tertinggi senilai 116,16. Ini yang membuat petani kita semangat untuk menanam,” ujarnya.
Sementara itu Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) mengungkap harga beras medium saat ini terkerek di level Rp13.500 per kilo. Sedangkan beras premium sudah menyentuh harga Rp18.500 per kilo. Harga tersebut jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
Sekretaris Jenderal DPP IKAPPI Reynaldi Sarijowan mengungkap, persoalan harga beras yang tak kunjung menyentuh HET ini disebabkan beberapa faktor. Ia menilai saat ini pemerintah tidak serius dalam pengelolaan beras sejak musim tanam tahun 2022 hingga saat ini, sehingga produktivitas beras datanya simpang siur.
IKAPPI mendorong agar pemerintah berhati-hati dengan lonjakan harga beras dan kelangkaan yang terjadi di pasar tradisional. "Ini penting karena ini momen politik, musim pemilu sehingga banyak beras yang di ambil diluar pasar tradisional atau produsen besar. Ini yang harus di jaga oleh pemerintah untuk ke depan," terangnya.
(akr)
Lihat Juga :