alexametrics

Kecewa, Ratusan Pengemudi Grab Migrasi ke Go-Jek

loading...
Kecewa, Ratusan Pengemudi Grab Migrasi ke Go-Jek
Kecewa aspirasi tidak pernah didengar, para pengemudi Grab memilih migrasi ke Go-Jek. Foto/Istimewa
A+ A-
JAKARTA - Kecewa karena aspirasi tidak pernah didengar manajemen Grab Indonesia, ratusan mitra pengemudi Grab memilih pindah ke Go-Jek. Migrasi para pengemudi Grab ini terjadi meluas di beberapa kota di Indonesia, termasuk di Jakarta dan Bandung.

Ratusan mitra driver Grab memadati wilayah Kemang, Jakarta Selatan, Jumat (16/11/2018) pagi, untuk melakukan migrasi ke perusahaan teknologi Go-Jek. Migrasi ini menyebabkan kemacetan hingga 2 kilometer. Kesemerawutan terjadi karena mitra driver memarkir kendaraan di tepi jalan.

Vice President Corporate Affairs Go-Jek, Michael Reza Say, membenarkan soal migrasi tersebut. Pihak Go-Jek lantas membuka pintu bagi para mitra yang memenuhi kualifikasi dan persyaratan untuk bergabung.

"Pada dasarnya semangat kami adalah untuk membantu kesejahteraan sektor informal di Indonesia. Sebagai pelopor ride-hailing di Indonesia, kami bangga dapat menjadi pilihan mitra driver untuk bersama terus melayani jutaan mitra Indonesia melalui teknologi," ujar Michael.

Menurut Michael, aksi migrasi ini sudah terjadi sejak awal pekan ini, yaitu Selasa (13/11) lalu. Bermula di Bandung, dimana sekitar 500 mitra pengemudi ojek online Grab migrasi ke Go-Jek dengan mendaftar diri serempak ke kantor Go-Jek cabang Bandung.

Michael, menceritakan, salah seorang mitra ojek online Grab, Iwan Siregar, yang ikut dalam antrean di Bandung mengatakan, ada beberapa alasan utama dia dan rekan-rekannya bermigrasi menjadi mitra Go-Jek. Salah satunya terkait aspek kesejahteraan.

"Peraturan di Grab itu setiap bulan berubah-ubah. Insentif enggak dikeluarkan mulai tanggal 6 November kemarin," kata Michael menirukan keluhan Iwan Siregar.

Meskipun tidak melulu mengejar insentif, kata Iwan, setidaknya hal itu sejauh ini menjadi pemacu semangat untuk menjalankan peran sebagai mitra, menarik order dari konsumen.

"Namanya driver enggak muluk-muluk cari nilai tambah. Jadi kalau misalnya ada lebihnya kita bisa nyimpen kan itu yang kita harapkan," soal kisah Iwan. Sebaliknya jika uang yang dibawa pulang ternyata kemudian pas-pasan ke rumah, memberikan rasa pilu bagi para mitra pengemudi.

Alasan lain adalah program yang mampu menyejahterakan para mitra. Grab tidak punya itu. Bahkan, kata Iwan, fasilitas asuransi pun belum pernah dia terima. "Kalau di Go-Jek apa itu namanya (program) Swadaya ya? Itu kan enggak ada di Grab," keluhnya.

Di Jakarta, eksodus mitra Grab terjadi di kantor Go-Jek wilayah Kemang Timur, Jakarta Selatan, Jumat (16/11/2018). Sama seperti di Bandung, para driver yang masih menggunakan jaket dan helm Grab itu juga mengantre sejak pagi.

Tidak kalah banyak jumlahnya dibanding dengan di Bandung, para mitra Grab itu siap berganti jaket dan helm. Selain di Bandung dan Jakarta, migrasi juga terjadi di kota lain seperti terjadi di Makassar, Sulawesi Selatan. "Secara umum, alasan diungkapkan para mitra terkait aksi tersebut adalah berkaitan dengan kesejahteraan," pungkas Michael.
(ven)
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak