Ekonom Prediksi BI Tahan Suku Bunga Acuan 6,25%, Ini Pertimbangannya
Kamis, 20 Juni 2024 - 09:59 WIB
loading...
A
A
A
Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar USD2,93 miliar di Mei 2024, naik 7,61 persen (mtm) atau USD0,21 miliar dari USD2,72 miliar di April 2024. Akibat efek basis rendah (low-base effect), surplus perdagangan Mei bahkan tumbuh 585,10 persen (yoy) secara tahunan seiring nilai neraca perdagangan di Mei 2023 tercatat di titik terendahnya selama empat tahun terakhir.
"Di Mei 2024, baik ekspor maupun impor mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya, dan peningkatan neraca perdagangan secara keseluruhan didorong oleh peningkatan ekspor yang melampaui impor," ujarnya.
Selain itu, keputusan The Fed memicu arus modal keluar dan berkontribusi pada depresiasi rupiah sebesar 2,79 persen (mtm) antara pertengahan Mei dan pertengahan Juni. Adapun rupiah terdepresiasi sebesar 2,79 persen (mtm) antara pertengahan Mei dan pertengahan Juni, mencapai level terendah sejak April 2020, terutama disebabkan oleh penguatan dolar AS.
Antara pertengahan Mei dan pertengahan Juni, Rupiah terdepresiasi sebesar 2,79 persen secara bulanan, turun dari Rp15.950 per USD pada 17 Mei menjadi Rp16.395 per USD pada 14 Juni. Angka tersebut menandai level terendah sejak April 2020, saat awal pandemi Covid-19. Pelemahan Rupiah terutama disebabkan oleh penguatan dolar AS, yang telah berdampak pada mata uang global.
Baca Juga: BI Buka-bukaan Soal Arah Suku Bunga Acuan, Perry Warjiyo: Tak Perlu Naik Lagi
"Di Mei 2024, baik ekspor maupun impor mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya, dan peningkatan neraca perdagangan secara keseluruhan didorong oleh peningkatan ekspor yang melampaui impor," ujarnya.
Selain itu, keputusan The Fed memicu arus modal keluar dan berkontribusi pada depresiasi rupiah sebesar 2,79 persen (mtm) antara pertengahan Mei dan pertengahan Juni. Adapun rupiah terdepresiasi sebesar 2,79 persen (mtm) antara pertengahan Mei dan pertengahan Juni, mencapai level terendah sejak April 2020, terutama disebabkan oleh penguatan dolar AS.
Antara pertengahan Mei dan pertengahan Juni, Rupiah terdepresiasi sebesar 2,79 persen secara bulanan, turun dari Rp15.950 per USD pada 17 Mei menjadi Rp16.395 per USD pada 14 Juni. Angka tersebut menandai level terendah sejak April 2020, saat awal pandemi Covid-19. Pelemahan Rupiah terutama disebabkan oleh penguatan dolar AS, yang telah berdampak pada mata uang global.
Baca Juga: BI Buka-bukaan Soal Arah Suku Bunga Acuan, Perry Warjiyo: Tak Perlu Naik Lagi
Lihat Juga :