Sanksi Barat Bikin Ribet, Rusia dan China Makin Sering Pakai Aset Digital

Jum'at, 26 Juli 2024 - 19:54 WIB
loading...
Sanksi Barat Bikin Ribet,...
Rusia dan China semakin sering menggunakan aset digital dalam penyelesaian transaksi lintas batas kedua negara yang menjadi solusi dalam mengatasi masalah pada pembayaran bilateral karena sanksi Barat. Foto/Dok
A A A
MOSKOW - Rusia dan China semakin sering menggunakan aset digital dalam penyelesaian transaksi lintas batas kedua negara yang menjadi solusi dalam mengatasi masalah pada pembayaran bilateral. Platform digital Qifa mengatakan kepada Reuters, peningkatan ini karena transaksi langsung lewat bank membutuhkan waktu penyelesaian berbulan-bulan akibat sanksi Barat.

Baca Juga: Rusia Bersiap Meluncurkan Mata Uang Digital, Uji Coba Masuk Tahap Akhir

Qifa kepunyaan China yang didirikan pada tahun 2013, awalnya fokus pada impor barang-barang konsumen China ke Rusia. Namun tahun ini, mereka juga menangani perdagangan bilateral memanfaatkan lonjakan perdagangan antara kedua negara, bahkan ketika ancaman sanksi sekunder AS terhadap bank-bank China memperumit aliran pembayaran dengan prosedur yang lebih ketat.

Menyusutnya jumlah bank di China yang bersedia mengambil risiko di tengah sanksi, membuat kemacetan pembayaran dan langkah-langkah yang semakin kompleks untuk menghindari penundaan. Termasuk di antaranya memakai bank-bank regional China yang lebih kecil, sehingga dapat beroperasi di bawah radar.

Baca Juga: Israel Bakal Punya Mata Uang Digital, Begini Rencana Bank Sentral

Menghadapi rintangan tersebut, Qifa yang beroperasi di Beijing dan Moskow dan akan segera terdaftar di Bursa Moskow, telah beralih ke aset digital. Bahkan penyelesaian cryptocurrency , bisa dilakukan hanya dalam satu hari.

Pendiri Qifa, Sun Tianshu mengatakan, perusahaan memantau dengan cermat undang-undang di kedua sisi perbatasan dan sudah memfasilitasi pembayaran lintas batas menggunakan tether (USDT) - yang disebut 'stablecoin' yang mempertahankan nilai tetap dalam dolar.

Rusia mengizinkan penyelesaian menggunakan beberapa aset keuangan digital yang dapat melewati sistem perbankan seperti tether. Parlemen Rusia juga sedang mempertimbangkan RUU yang akan melegalkan semua cryptocurrency sebagai alat pembayaran dalam perdagangan luar negeri.

Patuh Sanksi Barat

"Penundaan pembayaran disebabkan oleh fakta bahwa banyak rekanan Rusia menghadapi meningkatnya kepatuhan dari bank-bank China ke Rusia," kata wakil chairman, Kyle Shostak dalam sebuah wawancara.

"Banyak rekanan Rusia tidak sepenuhnya terbiasa dengan praktik seperti itu dan tidak tahu bagaimana menanggapi permintaan ini," sambungnya.

Pembayaran dulu memakan waktu maksimal satu atau dua hari, tetapi sekarang, berbagai prosedur dan pemeriksaan menunda pembayaran satu hingga tiga bulan, kata Tianshu. Dalam beberapa kasus, dokumentasi yang tidak memadai menggagalkan transaksi, tetapi perusahaan mulai beradaptasi.

"Ada tren yang baik sekarang - banyak pembayaran dan banyak perusahaan yang lulus pemeriksaan telah menyusun paket dokumen dengan benar," kata Tianshu dalam wawancara yang sama.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Terbitkan Panda Bond,...
Terbitkan Panda Bond, Menkeu Purbaya Kantongi Dukungan China
Indonesia Raih Komitmen...
Indonesia Raih Komitmen Pendanaan AIIB USD17 Miliar, Bukti Kepercayaan pada Fiskal RI
Maskapai China Spring...
Maskapai China Spring Airlines Resmi Mengudara di Indonesia, Buka Rute Seminggu 3 Kali
Purbaya Temui Menkeu...
Purbaya Temui Menkeu China, Perkuat Kerja Sama Pembiayaan dan Investasi
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
Finlandia Buka Pintu...
Finlandia Buka Pintu Jadi Markas Bom Nuklir NATO, Rusia Bisa Marah
Ini Keunggulan Pesawat...
Ini Keunggulan Pesawat Pengebom B-52 vs Tu-22M3 yang Jatuh pada Hari yang Sama
Rekomendasi
5 Alasan See You at...
5 Alasan See You at Work Tomorrow Jadi Drakor Romansa Kantor yang Dinantikan
Daya Tarik Menarik Thailand:...
Daya Tarik Menarik Thailand: Eksplorasi Kota Bangkok dan Keindahan Pesisir Pattaya
FIFA Beri Lampu Hijau,...
FIFA Beri Lampu Hijau, Michael Oliver Pimpin Laga Belanda vs Swedia
Berita Terkini
OJK Rilis Daftar Direksi...
OJK Rilis Daftar Direksi BEI Baru, Ada 7 Direktur Terpilih
APKB Dorong Penyempurnaan...
APKB Dorong Penyempurnaan Regulasi Kawasan Berikat: Menjaga Daya Saing Industri dan Investasi
PLN EPI Tuntaskan Hot...
PLN EPI Tuntaskan Hot Tap WNTS-Pemping, Gas Natuna Siap Mengalir ke Dalam Negeri
Harga Batu Bara buat...
Harga Batu Bara buat PLN Bakal Naik, Begini Penjelasan Bahlil
Bekasi Fajar Cetak Laba...
Bekasi Fajar Cetak Laba Rp30 Miliar, Targetkan Penjualan Lahan Rp600 Miliar
Pertamina Masuk Fortune...
Pertamina Masuk Fortune Southeast Asia 500, Cermin Kekuatan Ekonomi Nasional di Mata Dunia
Infografis
Alasan AS Hindari Perlombaan...
Alasan AS Hindari Perlombaan Senjata Nuklir Lawan Rusia dan China
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved