Keserakahan Orang Terkaya Dunia, Raup Rp677.915 Triliun tanpa Kenaikan Pajak

Minggu, 28 Juli 2024 - 08:11 WIB
loading...
Keserakahan Orang Terkaya...
Laporan organisasi nirlaba Oxfam mendesak kenaikan pajak tahunan kekayaan bersih pada orang terkaya di dunia menjadi 8%. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Laporan organisasi nirlaba Oxfam mendesak kenaikan pajak tahunan kekayaan bersih pada orang terkaya di dunia menjadi 8%. Diterangkan juga berdasarkan analisis Oxfam, memperlihatkan bahwa akumulasi kekayaan terbaru orang terkaya di dunia dalam satu dekade terakhir mencapai USD42 triliun atau setara Rp677.915 triliun (Kurs Rp16.140 per USD).

Baca Juga: Pengakuan 100 Orang Terkaya di Dunia: Sistem Pajak Saat Ini Tidak Adil

Analis terbaru oleh Oxfam mengungkapkan, angka kekayaan terbaru miliarder dunia hampir 34 kali lebih banyak dari seluruh 50% populasi terbawah dunia. Laporan tersebut dirilis menjelang pertemuan ketiga Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 di Rio de Janeiro, Brasil.

Selama dekade terakhir, kekayaan rata-rata orang terkaya dunia per orang meningkat hampir USD400.000 yang jika dirupiahkan mencapai Rp6,45 miliar secara riil.

Baca Juga: Wow! Deretan Orang Terkaya Dunia Ini Ternyata Doyan Ngemplang Pajak

Sebaliknya kekayaan kelas bawah hanya meningkat USD335 atau Rp5,4 juta, peningkatan jumlah tersebut setara kurang dari sembilan sen per hari, ungkap laporan itu memberikan catatan.

Sementara itu secara global, miliarder sudah membayar tarif pajak yang setara kurang dari 0,5% dari kekayaan mereka. Kekayaan deretan orang terkaya dunia ini rata-rata meningkat secara tahunan sebesar 7,1% dalam empat dekade terakhir.

Di sisi lain Menteri Keuangan G20 diperkirakan akan mencapai kesepakatan global penting yang bertujuan menaikkan pajak pada golongan orang super kaya. Dipelopori oleh Presidensi G20 Brasil dan didukung oleh negara-negara seperti Afrika Selatan, Spanyol, dan Prancis, inisiatif ini menanggapi meningkatnya tekanan publik untuk mengatasi ketidaksetaraan ekstrem dan memastikan kontribusi pajak yang adil dari orang kaya.

Diketahui negara-negara G20 merupakan rumah bagi hampir empat dari lima miliarder dunia. Kondisi saat ini menurut Oxfam, merupakan saat yang tepat untuk menaikkan pajak terhadap orang terkaya dunia.

"Momentum untuk menaikkan pajak pada orang super kaya tidak dapat disangkal, dan minggu ini adalah ujian nyata pertama bagi pemerintah G20. Apakah mereka memiliki kemauan politik untuk mencapai standar global yang menempatkan kebutuhan banyak orang di atas keserakahan segelintir elit?" kata Kepala Kebijakan Ketidaksetaraan Oxfam International, Max Lawson dalam sebuah pernyataan seperti dilansir Forbes.

Ada beberapa fakta, salah satunya yakni Afrika Selatan memiliki ketimpangan tertinggi dalam distribusi pendapatan pada tahun 2023. Tetangganya di Afrika Selatan, Namibia berada pada urutan kedua, menurut Statista.

Kenaikan pajak orang super kaya tidak lepas dari pro dan kontra, dimana AS (Amerika Serikat) berdiri teguh menentang pajak kekayaan bersih tahunan 8% yang diusulkan, menurut AFP.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tarik Dana JHT BPJS...
Tarik Dana JHT BPJS Ketenagakerjaan Dipotong Pajak, Purbaya Buka Suara
Pertamina Cetak Laba...
Pertamina Cetak Laba Bersih Rp55,2 Triliun di 2025, Setor ke Negara Rp360 Triliun
Elon Musk Jadi Kuadriliuner...
Elon Musk Jadi Kuadriliuner Pertama di Dunia, Seberapa Banyak Uangnya?
Pemutakhiran NIK Jadi...
Pemutakhiran NIK Jadi Kunci Pembebasan PBB-P2 di Jakarta
Momentum Jakarta Fair,...
Momentum Jakarta Fair, Bapenda DKI Permudah Warga Bayar Pajak Kendaraan
10 Presiden Terkaya...
10 Presiden Terkaya Sepanjang Sejarah AS, Trump Jauh Lebih Unggul dari Pendahulunya
PP 20 Tahun 2026: Langkah...
PP 20 Tahun 2026: Langkah Besar Menuju Keadilan Pajak bagi UMKM Orang Pribadi
Raja Charles Inggris...
Raja Charles Inggris Akan Ungkap Tagihan Pajak Pribadinya, Berapa Besar?
Data NIK Jadi Penentu,...
Data NIK Jadi Penentu, Warga Diimbau Cek Syarat Pembebasan PBB-P2
Rekomendasi
Keterbatasan SDM Jadi...
Keterbatasan SDM Jadi Tantangan di Papua, Talius Tabuni Dukung Penguatan Program Beasiswa Puncak Cerdas
Tren Komentar Spam Judi...
Tren Komentar Spam Judi Online Naik 128 Persen, Kini Pakai Sistem Bot Otomatis
Dilaporkan Balik Oleh...
Dilaporkan Balik Oleh Penyanyi Muda Syahravi, Begini Tanggapan Fariz RM
Berita Terkini
Rekor Terburuk Sejak...
Rekor Terburuk Sejak 1986! Yen Jepang Hancur Lebur ke Titik Terendah
Merger Enam BPR Dapat...
Merger Enam BPR Dapat Restu OJK, Lintas 5 Provinsi di Sumatera
Penuhi Target 100 GW...
Penuhi Target 100 GW PLTS, Kesiapan SDM Lokal Jadi Syarat Mutlak
MUF Dorong Adopsi Kendaraan...
MUF Dorong Adopsi Kendaraan Listrik bagi Nasabah Bank Mandiri lewat EV Coffee & Drive
Bursa Saham RI Diguncang...
Bursa Saham RI Diguncang MSCI, OJK Garansi Pasar Modal RI Tak Akan Turun Kasta
Bulog Buka Gudang untuk...
Bulog Buka Gudang untuk Mahasiswa UGM, Dirut: Lihat Langsung Pengelolaan Cadangan Beras
Infografis
Tanpa Italia, Ini Daftar...
Tanpa Italia, Ini Daftar Lengkap 48 Negara Kontestan Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved