Terjerat Pinjaman Miliaran Dolar, Pakistan Kena Jebakan Utang China?

Senin, 05 Agustus 2024 - 15:13 WIB
loading...
A A A
Baca Juga: Waduh! Utang Pemerintah Capai Rp8.353 T, Dekati Level Berbahaya

Ekonom Kaiser Bengali berpendapat bahwa mengubah struktur pembayaran utang China "hanya perbaikan sementara", yang juga bergantung pada kemurahan hati dari pihak China, bahkan jika penataan ulang profil dan perpanjangan pinjaman dari China telah membantu Pakistan memenuhi kebutuhan pembiayaan eksternalnya beberapa kali di masa lalu.

"Utang China sangat besar dan pelunasan utang adalah satu-satunya pilihan. Tumpukan utang yang besar itu menghancurkan ekonomi," katanya.

"Ini menjadi semakin rumit, berapa lama China akan melunasi utang-utang ini, karena mereka memiliki batas bawah sendiri untuk pinjaman-pinjaman ini dalam proyek-proyek bisnis mereka. Mereka meminjamkan uang ke banyak negara dan tidak ingin membuat preseden dengan menunda dan merundingkan ulang proyek-proyek karena akan memengaruhi kepentingan mereka," tambahnya.

Di bagian lain, baik pejabat Pakistan maupun China terus menepis kritik bahwa proyek CPEC telah memperdalam kesulitan ekonomi Islamabad. Keduanya juga membingkai skema CPEC tersebut sebagai peluang untuk pertumbuhan ekonomi.

Siaran pers dari Sekretariat CPEC Kementerian Perencanaan, Pembangunan, dan Prakarsa Khusus Pakistan menyatakan, Islamabad bergabung dengan CPEC karena "pengaturan pembiayaan yang menguntungkan" dan bahwa China telah "melangkah maju untuk mendukung pembangunan Pakistan pada saat investasi asing mengering."

"CPEC telah memberikan peluang yang sangat besar bagi Pakistan untuk tumbuh secara ekonomi. "Ini adalah mesin pertumbuhan ekonomi," tandas pernyataan tersebut. Namun demikian, faktanya masalah utang Pakistan tidak akan hilang begitu saja.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Biaya Nongkrong Kian...
Biaya Nongkrong Kian Mahal, Bikin Orang Enggan Bertemu
Kemnaker: Korban PHK...
Kemnaker: Korban PHK Tembus 43.000 Orang, Sektor Manufaktur Terbanyak
Kabar Buruk, Perusahaan...
Kabar Buruk, Perusahaan Rokok Raksasa Ini Bakal PHK 9.000 Karyawan
Trump Klaim Kesepakatan...
Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Selamatkan Dunia dari Bencana Ekonomi
BI Sangkal Cadangan...
BI Sangkal Cadangan Devisa Terkuras, Masih di Atas Standar IMF
Bos IMF Peringatkan...
Bos IMF Peringatkan Dunia Tak Akan Pernah Normal Lagi: Bersiap Hadapi Gelombang Krisis Baru
Mengapa Amerika Tak...
Mengapa Amerika Tak Pernah Mengusik Nuklir Pakistan? Ini Alasan Sebenarnya
Mengapa Arab Saudi dan...
Mengapa Arab Saudi dan Kuwait Mulai Melirik Pakistan? Ketergantungan pada AS Tak Lagi Mutlak
Ikuti Arab Saudi, Kuwait...
Ikuti Arab Saudi, Kuwait Cari Perlindungan dari Pakistan yang Bersenjata Nuklir
Rekomendasi
Bea Cukai Bali Nusra...
Bea Cukai Bali Nusra Musnahkan Barang Ilegal Senilai Lebih dari Rp11,2 Miliar
Kisah Menakjubkan dalam...
Kisah Menakjubkan dalam Al-Qur'an: Orang-Orang yang Diselamatkan Allah dari Berbagai Musibah
Menimbang Bioetanol...
Menimbang Bioetanol Berbasis Tetes Tebu
Berita Terkini
Bank Mandiri Taspen...
Bank Mandiri Taspen Komitmen Dukung Ekonomi Nasabah Pensiunan lewat Toko Aice Manado
Dirut Pertamina Patra...
Dirut Pertamina Patra Niaga Pastikan Layanan SPBU di Palembang Optimal
Lokasi PFII Belum Final,...
Lokasi PFII Belum Final, Purbaya: Nanti yang Nentuin Menteri Keuangan
Permintaan Hunian Tetap...
Permintaan Hunian Tetap Tinggi, Alam Sutera Kembangkan Kawasan Residensial Baru
Tak Hanya di Bali, PFII...
Tak Hanya di Bali, PFII Juga Akan Dibangun di Jakarta
SPKS Dorong Riset BPDP...
SPKS Dorong Riset BPDP Hasilkan Teknologi Murah untuk Petani Sawit
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved