Tekan Polusi Udara, Penerapan BBM Standar Euro IV Perlu Segera Dimulai
Selasa, 17 Desember 2024 - 18:07 WIB
loading...
A
A
A
"Karena itu, Indonesia perlu segera menerapkan Euro4 dengan didukung kebijakan yang terintegrasi, disertai dengan pengawasan dan penegakan aturan yang ketat. Pemerintah perlu memastikan kesiapan kilang domestik untuk memenuhi BBM Euro 4. Meski membutuhkan investasi signifikan, kolaborasi pemerintah dan swasta dalam teknologi serta infrastruktur kilang akan membawa manfaat yang jauh lebih besar bagi lingkungan, kesehatan, dan ekonomi,"ujar Fabby.
Analis Kebijakan Lingkungan IESR Ilham RF Surya dalam pemaparannya mengakui bahwa penerapan Euro 4 akan berimplikasi pada peningkatan biaya produksi BBM sekitar Rp200-Rp500 per liter. Karena itu, tegas dia, pemerintah perlu mempersiapkan ruang fiskal untuk mengantisipasi dampak ekonomi dari penerapan Euro 4 tersebut. Pemerintah menurutnya juga perlu menyiapkan skema pembiayaan peningkatan biaya produksi BBM dengan berbagai skenario, apakah ditanggung oleh pemerintah, dibebankan kepada konsumen atau dengan membatasi akses BBM bersubsidi bagi kelompok masyarakat tertentu.
Di sisi lain, kata Ilham, peningkatan biaya produksi BBMjuga akan dibarengi dengan turunnya biaya kesehatan dengan membaiknya kualitas udara. Hal itu dapat "mengurangi" beban kenaikan biaya produksi BBM berstandar Euro 4. "Total penurunan beban biaya dari pengurangan klaim BPJS untuk pengobatan ketiga penyakit ini pada 2030 diperkirakan mencapai Rp550 miliar dengan rincian pneumonia sebesar Rp246 miliar, jantung iskemik sebesar Rp268 miliar, dan PPOK Rp36 miliar," jelas Ilham.
Dalam diskusi tersebut, Direktur Pembinaan Program Migas Kementerian ESDM Mirza Mahendra menegaskan bahwa pemerintah sepakat untuk meningkatkan kualitas BBM secara bertahap sesuai peta jalan yang ada. Dia menambahkan, upaya itu juga dibarengi denganberbagai kebijakan lain yang juga mengarah pada upaya menekan polusi yang berasal dari sektor transportasi. "Pemerintah juga mendorongkebijakan lain seperti misalnya konversi motor konvensional menjadi motor listrik, atau pengembangantransportasi publik lainnya. Intinya bukan hanya dari BBM, tapi juga aspek-aspek lainnya," papar Mirza.
Analis Kebijakan Lingkungan IESR Ilham RF Surya dalam pemaparannya mengakui bahwa penerapan Euro 4 akan berimplikasi pada peningkatan biaya produksi BBM sekitar Rp200-Rp500 per liter. Karena itu, tegas dia, pemerintah perlu mempersiapkan ruang fiskal untuk mengantisipasi dampak ekonomi dari penerapan Euro 4 tersebut. Pemerintah menurutnya juga perlu menyiapkan skema pembiayaan peningkatan biaya produksi BBM dengan berbagai skenario, apakah ditanggung oleh pemerintah, dibebankan kepada konsumen atau dengan membatasi akses BBM bersubsidi bagi kelompok masyarakat tertentu.
Di sisi lain, kata Ilham, peningkatan biaya produksi BBMjuga akan dibarengi dengan turunnya biaya kesehatan dengan membaiknya kualitas udara. Hal itu dapat "mengurangi" beban kenaikan biaya produksi BBM berstandar Euro 4. "Total penurunan beban biaya dari pengurangan klaim BPJS untuk pengobatan ketiga penyakit ini pada 2030 diperkirakan mencapai Rp550 miliar dengan rincian pneumonia sebesar Rp246 miliar, jantung iskemik sebesar Rp268 miliar, dan PPOK Rp36 miliar," jelas Ilham.
Dalam diskusi tersebut, Direktur Pembinaan Program Migas Kementerian ESDM Mirza Mahendra menegaskan bahwa pemerintah sepakat untuk meningkatkan kualitas BBM secara bertahap sesuai peta jalan yang ada. Dia menambahkan, upaya itu juga dibarengi denganberbagai kebijakan lain yang juga mengarah pada upaya menekan polusi yang berasal dari sektor transportasi. "Pemerintah juga mendorongkebijakan lain seperti misalnya konversi motor konvensional menjadi motor listrik, atau pengembangantransportasi publik lainnya. Intinya bukan hanya dari BBM, tapi juga aspek-aspek lainnya," papar Mirza.
(fjo)
Lihat Juga :