3 Alasan BRICS Gagal Taklukkan Dominasi Dolar, Salah Satunya Dapat Tekanan Besar

Jum'at, 27 Desember 2024 - 11:15 WIB
loading...
3 Alasan BRICS Gagal...
Agenda dedolarisasi BRICS dinilai akan sulit berlanjut setelah Donald Trump kembali memerintah Amerika Serikat (AS). FOTO/Ilustrasi
A A A
JAKARTA - BRICS kemungkinan besar tidak akan bergerak dengan begitu leluasa setelah Donald Trump Kembali ke Gedung Putih. Anggapan ini telah banyak dilontarkan oleh analis yang menganggap jika kelompok ekonomi tersebut akan mulai tersendat.

BRICS sejak awal telah jadi kelompok negara yang paling vokal untuk menyerukan dedolarisasi selama beberapa tahun terakhir. Meski begitu, meninggalkan dolar AS dan menciptakan mata uang baru bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan.

Baca Juga: Daftar Negara yang Terang-terangan Melakukan Dedolarisasi

Meskipun dampak meninggalkan dolar AS ini memang terlihat meyakinkan untuk kebanyakan negara, namun terdapat risiko besar di dalamnya. Dimana salah satunya adalah AS tidak akan semudah itu melepaskan dominasinya.

3 Alasan BRICS akan Gagal Taklukkan Dominasi Dolar AS


1. Dolar AS Masih Terlalu Kuat

Sejak tahun 1970-an, dolar yang nilainya mengambang bebas terus berfungsi sebagai mata uang cadangan utama dunia, mendominasi perdagangan dan perbankan internasional.

Surat utang pemerintah AS juga terbukti sebagai investasi yang dapat diandalkan dan berisiko rendah. Kedalaman sistem keuangan AS dan ukuran serta keragaman pasar saham AS semakin meningkatkan permintaan terhadap dolar.

Selain itu, kemudahan dolar untuk dipertukarkan telah menjaga biaya transaksi tetap rendah. Secara keseluruhan, faktor-faktor ini telah meyakinkan banyak pembuat kebijakan di seluruh dunia bahwa dolar adalah penyimpan nilai yang dapat diandalkan.

2. Mendapat Tekanan Besar

Menteri Urusan Luar Negeri India, Subrahmanyam Jaishankar mengatakan, bahwa meskipun India sedang mengejar kepentingan perdagangannya, menghindari penggunaan dolar AS bukanlah bagian dari kebijakan ekonomi India.

Subrahmanyam Jaishankar menyebutkan jika kebijakan AS sering kali mempersulit perdagangan dengan negara-negara tertentu, dan India mencari "solusi" tanpa bermaksud untuk menjauh dari penggunaan dolar.

Terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS yang baru ini membuat banyak negara khawatir untuk membuat kebijakan yang merugikan AS. Sebab Presiden AS satu ini tidak akan membiarkan dedolarisasi terjadi di masa kepemimpinannya.

Baca Juga: Mengapa Tabrakan dengan Burung Bisa Sebabkan Kecelakaan Pesawat Azerbaijan Airlines?

Bahkan Trump sempat mengungkapkan akan mengenakan tarif 100% pada impor dari negara-negara yang menghindari dolar.

Hal itu terjadi setelah Rusia dan China secara aktif mengurangi penggunaan dolar dalam perdagangan bilateral setelah AS mengeluarkan Rusia dari sistem pembayaran internasional 'SWIFT' menyusul invasi Ukraina.

3. Muncul Perpecahan

India tidak mendukung penciptaan mata uang bersama di antara sembilan negara yang tergabung dalam BRICS, namun India berusaha untuk meningkatkan perdagangan dalam mata uang lokalnya, menurut sejumlah analis di New Delhi.

Tidak hanya India, pemerintah Afrika Selatan juga menegaskan tidak ada rencana untuk menciptakan mata uang BRICS, dan menyalahkan "pelaporan yang salah baru-baru ini" karena menyebarkan narasi yang salah.

Hal ini menimbulkan spekulasi jika akan terjadi perpecahan di dalam kubu BRICS. Namun apakah itu adalah kemungkinan yang akan terjadi di masa depan? Meski bisa saja terjadi, ancaman Trump ini justru dapat memperburuk hubungan dengan negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia, yang merupakan beberapa mitra dagang utama AS.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bukan Utang, Purbaya...
Bukan Utang, Purbaya Tegaskan Pendanaan AIIB Rp303 Triliun Murni Investasi
Penerbitan Panda Bond...
Penerbitan Panda Bond Mundur ke Akhir Juli, Purbaya Incar Likuiditas Jumbo
Keluarga Pejabat di...
Keluarga Pejabat di China Dilarang Total Berbisnis, Mundur atau Tutup Usaha! Berani Tiru?
China Desak BRICS Berani...
China Desak BRICS Berani Melawan Barat: Akses Mineral Strategis Bakal Dikunci
Harga Bensin di AS Tetap...
Harga Bensin di AS Tetap Mahal meski Minyak Dunia Rontok, Trump Semprot Raksasa Energi
Usai Perang dengan Iran,...
Usai Perang dengan Iran, Trump Janji Ekonomi AS Segera Bangkit
Viral! Kebun Binatang...
Viral! Kebun Binatang China Cari Pemeran Beruang Hitam, Gajinya Rp263,6 Juta
Kerja Sama Yunani-China...
Kerja Sama Yunani-China Diperdebatkan, Legislator Tolak Status 'Mitra Lemah'
Jepang Sangkal Militernya...
Jepang Sangkal Militernya Mengganggu Latihan Tempur Kapal Induk China
Rekomendasi
Mensesneg Ungkap Pemicu...
Mensesneg Ungkap Pemicu Maraknya PHK di Indonesia
Klasemen Peringkat Ketiga...
Klasemen Peringkat Ketiga Terbaik di Piala Dunia 2026: Senegal Jaga Asa
Urutan Mandi Wajib Setelah...
Urutan Mandi Wajib Setelah Haid yang Benar agar Sah Melaksanakan Ibadah Fardhu Lagi
Berita Terkini
Daya Saing Indonesia...
Daya Saing Indonesia Turun ke Peringkat 48 Dunia, Kalah dari Malaysia dan Vietnam
10 Negara dengan Biaya...
10 Negara dengan Biaya Hidup Termahal di Dunia pada 2026, Ada Tetangga Indonesia
Kawal Transformasi Terintegrasi...
Kawal Transformasi Terintegrasi untuk Perkuat Bio Farma Group
Pasar Potensial Industri...
Pasar Potensial Industri Pembiayaan, Chailease Finance Dukung Pertumbuhan UKM Bandung
BPDP Dukung Jakarta...
BPDP Dukung Jakarta Fiscal Forum 2026, Perkuat Kolaborasi untuk Pembangunan Berkelanjutan
Pertamina Siap Turunkan...
Pertamina Siap Turunkan Harga BBM secara Bertahap Mulai Awal Juli
Infografis
3 Negara yang Teguh...
3 Negara yang Teguh Tak Akui Taiwan, Salah Satunya Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved