Beban Usaha Naik, Garuda Indonesia Catat Rugi Rp1,15 Triliun di 2024

Jum'at, 28 Maret 2025 - 08:20 WIB
loading...
Beban Usaha Naik, Garuda...
Maskapai Garuda Indonesia mencatatkan rugi bersih sebesar USD69,77 juta atau Rp1,15 triliun di tahun 2024. FOTO/Ilustrasi
A A A
JAKARTA - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk ( GIAA ) mencatatkan rugi bersih sebesar USD69,77 juta atau Rp1,15 triliun di tahun 2024. Hal itu berbanding berbalik dari capaian tahun 2023 di mana perusahaan mencatatkan laba sebesar USD250 juta.

Kerugian perseroan disebabkan oleh sejumlah faktor, antara lain beban usaha yang mengalami kenaikan sebesar 18,32 persen, yang salah satunya disebabkan oleh peningkatan beban pemeliharaan dan perbaikan pesawat. Manajemen Garuda menyebutkan, pada tahun 2024 terdapat beberapa pesawat yang memasuki jadwal perawatan besar (overhaul).

Baca Juga: Menhub Yakini Tidak Ada Penumpukan di Bandara Soetta Saat Puncak Arus Mudik

"Kinerja Garuda Indonesia di sepanjang tahun 2024 merefleksikan dinamika industri transportasi udara secara global yang masih menantang," kata Direktur Utama GIAA, Wamildan Tsani Panjaitan dalam keterangan pers, dikutip Jumat (28/3/2025).

Di sisi lain, pada periode yang sama Garuda mampu membukukan kenaikan pendapatan perseroan menjadi USD3,41 miliar atau Rp56,58 triliun dari sebelumnya sebesar USD2,93 miliar. Pertumbuhan tersebut dikontribusikan secara merata pada seluruh lini pendapatan usaha GIAA, di mana pendapatan penerbangan berjadwal mencatatkan peningkatan sebesar 15,32 persen menjadi USD2,74 miliar dari tahun sebelumnya sebesar USD2,38 miliar.

Pendapatan penerbangan berjadwal tercatat ditopang oleh peningkatan pendapatan angkutan penumpang sebesar USD2,57 miliar serta angkutan kargo dan dokumen senilai USD164,70 juta. Sementara pendapatan penerbangan tidak berjadwal mencapai USD333,75 juta, atau naik 15,87 persen dari tahun 2023. Pertumbuhan tersebut salah satunya dikontribusikan oleh angkutan charter yang mencatatkan lonjakan hingga 101,06 persen menjadi USD106,27 juta, dari tahun sebelumnya sebesar USD52,86 juta.

Baca Juga: Urai Macet Pantura Cirebon Imbas One Way Mudik, Truk Dipaksa Minggir ke Kantong Parkir

Adapun aspek pendapatan lainnya turut tumbuh signifikan sebesar 25,79 persen menjadi USD340,37 juta dibandingkan pada tahun sebelumnya yang ditunjang oleh kinerja anak usaha perseroan. Di antaranya, GMF AeroAsia yang menyumbang pendapatan pemeliharaan dan perbaikan pesawat sebesar USD102,71 juta, dengan peningkatan 18,54 persen, serta Aerowisata yang berhasil mencatatkan pendapatan biro perjalanan sebesar USD40,96 juta, atau meningkat signifikan sebesar 37,12 persen.

Namun, pendapatan lain-lain bersih tercatat mengalami penurunan drastis hingga 77,39 persen, dikarenakan pada tahun 2023 perseroan mencatatkan sejumlah extra-ordinary item. Di antaranya gain from bonds retirement dan pendapatan restrukturisasi anak perusahaan, sementara transaksi serupa tidak terjadi di tahun 2024.

Selanjutnya, pencatatan pembalikan impairment asset di tahun 2024 mencatatkan jumlah yang jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

"Kondisi makro ekonomi mulai dari isu rantai pasokan, dampak fluktuasi selisih kurs, pengaruh geopolitik dan kompetisi yang semakin ketat di industri transportasi udara, merupakan beberapa tantangan yang dihadapi oleh maskapai penerbangan di seluruh dunia dalam mempertahankan kinerja keuangan positif," tutup Wamildan.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Penerbangan Umrah Dipindah...
Penerbangan Umrah Dipindah Mulai 1 Juli 2026, Terpusat di Terminal 2F Bandara Soetta
Maskapai China Spring...
Maskapai China Spring Airlines Resmi Mengudara di Indonesia, Buka Rute Seminggu 3 Kali
Anomali Tiket Pesawat:...
Anomali Tiket Pesawat: Penerbangan Domestik Dipungut PPN, ke Luar Negeri Bebas Pajak
Harga Avtur Makin Mahal,...
Harga Avtur Makin Mahal, Maskapai Raksasa AS Mendadak Batalkan 6 Rute Penerbangan!
Rupiah Ambles ke Rp17.900,...
Rupiah Ambles ke Rp17.900, Siap-siap! Harga Tiket Pesawat Bakal Naik
Harga Avtur Domestik...
Harga Avtur Domestik Turun hingga 10 Persen Mulai 1 Juni 2026, Kabar Baik buat Industri Penerbangan
Fenomena Gangguan Sinyal...
Fenomena Gangguan Sinyal GPS, DPR: Berpotensi Ancam Keselamatan Penerbangan Sipil
Kerja Sama Mendukung...
Kerja Sama Mendukung Pertumbuhan Industri Penerbangan Helikopter di Indonesia
Industri Penerbangan...
Industri Penerbangan Masih Hadapi Tantangan Berat, Komisi V DPR Dorong Keberpihakan Pemerintah
Rekomendasi
Demam Piala Dunia, Patung...
Demam Piala Dunia, Patung Ikonik Yesus Sang Penebus di Brasil Diselimuti Jersey Samba
1.000 Taruna Akmil Bakal...
1.000 Taruna Akmil Bakal Latih Siswa Sekolah Rakyat
Perburuan Sepatu Emas...
Perburuan Sepatu Emas Piala Dunia 2026: Messi Dihantui Haaland dan Mbappe!
Berita Terkini
Status Pasar Modal RI...
Status Pasar Modal RI Tetap Emerging Market, Kekhawatiran Investor Hilang?
ONDA Bidik Kebutuhan...
ONDA Bidik Kebutuhan Renovasi Rumah dengan Sistem Terintegrasi
Usai Perang dengan Iran,...
Usai Perang dengan Iran, Trump Janji Ekonomi AS Segera Bangkit
Gandeng Mitra Global,...
Gandeng Mitra Global, PT WCS Dorong Ekosistem Pertanian Berbasis Digital
Telkom Catat Pendapatan...
Telkom Catat Pendapatan Rp146,7 Triliun, DPR Minta Soliditas Dijaga
Kemenkop dan Rumah Energi...
Kemenkop dan Rumah Energi Dorong Koperasi Jadi Motor Transisi Energi
Infografis
Indonesia Pertahankan...
Indonesia Pertahankan Dominasi Bulu Tangkis di SEA Games 2025
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved