Imbas Tarif Trump 32% ke Indonesia, IHSG Diprediksi Jeblok di Bawah 6.000
Selasa, 08 April 2025 - 09:24 WIB
loading...
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi melemah pada awal perdagangan usai libur panjang, Selasa (8/4). FOTO/dok.SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi melemah pada awal perdagangan usai libur panjang, Selasa (8/4). Analis Phintraco Sekuritas, Valdy Kurniawan mengatakan, IHSG rawan aksi sell-off sebagai penyesuaian pasar terhadap isu-isu global selama libur panjang Idulfitri.
"IHSG diperkirakan menutup gap di 6.240-6.320 sebelum menguji support 6.160. Jika pelemahan masih berlanjut critical support berikutnya berada di rentang 5.950-6.000," kata Valdy dalam risetnya, Selasa (8/4).
Baca Juga: Dihantui Tarif 'Horor' Trump, Simak Prediksi IHSG Hari Ini
Valdy menjelaskan, kepanikan pasar akan menjadi pemicu utama aksi sell-off tersebut mengingat Indonesia termasuk negara yang dikenakan reciprocal tariff cukup besar oleh AS sebesar 32%. Adapun pemerintah Indonesia merespons dengan pendekatan negosiasi bilateral dengan mengutus delegasi tingkat tinggi ke AS.
Beberapa poin yang akan ditawarkan adalah ratifikasi perjanjian dagang dan investasi, deregulasi kebijakan selain tarif, peningkatan impor dan investasi dari AS dan sejumlah insentif untuk mendukung impor dari AS (termasuk penurunan bea impor). Pemerintah Indonesia juga berkoordinasi dengan Pemerintah Malaysia selaku ketua ASEAN saat ini.
"IHSG diperkirakan menutup gap di 6.240-6.320 sebelum menguji support 6.160. Jika pelemahan masih berlanjut critical support berikutnya berada di rentang 5.950-6.000," kata Valdy dalam risetnya, Selasa (8/4).
Baca Juga: Dihantui Tarif 'Horor' Trump, Simak Prediksi IHSG Hari Ini
Valdy menjelaskan, kepanikan pasar akan menjadi pemicu utama aksi sell-off tersebut mengingat Indonesia termasuk negara yang dikenakan reciprocal tariff cukup besar oleh AS sebesar 32%. Adapun pemerintah Indonesia merespons dengan pendekatan negosiasi bilateral dengan mengutus delegasi tingkat tinggi ke AS.
Beberapa poin yang akan ditawarkan adalah ratifikasi perjanjian dagang dan investasi, deregulasi kebijakan selain tarif, peningkatan impor dan investasi dari AS dan sejumlah insentif untuk mendukung impor dari AS (termasuk penurunan bea impor). Pemerintah Indonesia juga berkoordinasi dengan Pemerintah Malaysia selaku ketua ASEAN saat ini.
Lihat Juga :