Perang Dagang AS-China, Siapa yang Bakal Menang dan Berakhir Tumbang?

Jum'at, 11 April 2025 - 08:46 WIB
loading...
Perang Dagang AS-China,...
Perang dagang antara AS dan China kembali memanas. Kedua negara saling menekan dengan tarif impor yang semakin tinggi. FOTO/iStock
A A A
JAKARTA - Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China kembali memanas. Dalam sepekan terakhir, kedua negara saling menekan dengan tarif impor yang semakin tinggi, mengubah konflik ini menjadi ujian ketahanan ekonomi jangka panjang yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Tarif impor AS terhadap produk China kini mencapai 125%, sementara Beijing membalas dengan tarif hingga 84% terhadap barang-barang asal Amerika. Perang tarif ini tidak hanya berdampak pada perdagangan kedua negara, namun juga menguji daya tahan sistem ekonomi global.

Baca Juga: Trump Tambah Tarif Impor dari China Jadi 145%, Importir AS Kocar-kacir

Menurut Dekan School of Public Policy di Chinese University of Hong Kong di Shenzhen, Zheng Yongnian, konflik ini bukan lagi sekedar soal neraca perdagangan, melainkan adu kekuatan dalam membangun sistem industri yang tangguh dan berkelanjutan.

"Apa yang diperebutkan adalah ketahanan ekonomi. Hanya dengan sistem yang kuat, China bisa mengamankan posisi dominan dalam persaingan jangka panjang melawan AS," ujar Zheng, dikutip dari akun resmi media sosial People's Daily dari SCMP, Jumat (11/4/2025).

Di tengah ketegangan ini, Presiden AS Donald Trump memberikan jeda 90 hari untuk sebagian besar tarif pada negara lain, namun tetap fokus memperketat kebijakan terhadap China. Langkah ini disebut oleh Lynn Song, kepala ekonom ING untuk Greater China, sebagai bagian dari ujian daya tahan yang sengaja dilancarkan Washington.

"Para pembuat kebijakan seakan-akan sedang menguji siapa yang lebih dulu merasa kesakitan, untuk melihat siapa yang akhirnya memiliki keunggulan saat negosiasi dilanjutkan," tulis Lynn dalam catatannya.

Namun, risiko pemisahan total antara dua raksasa ekonomi dunia makin nyata. Perdagangan antara AS dan China yang mencapai USD688,3 miliar tahun lalu kini terancam stagnasi.

Zheng memperingatkan, "Jika tarif sudah tembus 60 hingga 70 persen, efeknya bisa sama seperti 500 persen, bisnis tak akan bisa berjalan dan pemisahan ekonomi jadi tak terelakkan."

Profesor Ekonomi dari Universitas Peking, Yao Yang, juga menyuarakan kekhawatiran serupa. Ia menyebut, banyak industri ekspor China kini harus mengalihkan produk ke pasar domestik, yang bisa memperparah persaingan internal dan tekanan deflasi.

Baca Juga: Balas Amukan Trump, China Gebuk AS dengan Tarif 84%

Meski begitu, Yao menilai, pemerintah China masih memiliki banyak instrumen untuk menangani situasi ini. Ia mendorong peningkatan stimulus domestik dan dukungan terhadap daerah-daerah yang terlilit utang, terutama dalam menopang sektor properti. "Arah kebijakan pusat sudah benar, namun intensitasnya bisa ditingkatkan," tegasnya.

Sementara, AS dinilai masih memiliki keunggulan di sektor jasa dan finansial, terutama lewat dominasi dolar. Namun, Zheng menilai, posisi tersebut juga rentan jika AS terus memproduksi barang di dalam negeri dan menarik diri dari rantai pasok global. "Jika AS membuat segalanya sendiri, lalu kenapa negara lain butuh dolar?" ujarnya retoris.

Upaya AS untuk membentuk aliansi baru seperti Kerangka Kerja Ekonomi Indo-Pasifik juga dinilai belum efektif dalam mengucilkan China dari sistem ekonomi global.

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tarif Trump 18% Mengancam...
Tarif Trump 18% Mengancam Komoditas Unggulan Nasional, RI Rayu AS Minta Pengecualian
10 Presiden Terkaya...
10 Presiden Terkaya Sepanjang Sejarah AS, Trump Jauh Lebih Unggul dari Pendahulunya
Bank Sentral China Borong...
Bank Sentral China Borong Emas 19 Bulan Berturut-turut, Ada Apa?
24 Negara Pembeli Minyak...
24 Negara Pembeli Minyak Terbesar AS, Cek Posisi Indonesia
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
10 Negara Produsen Pertanian...
10 Negara Produsen Pertanian Terbesar di Dunia, Indonesia Urutan Berapa?
Seperempat Laga Piala...
Seperempat Laga Piala Dunia 2026 Berisiko Tinggi
AS Tolak Masuk Wasit...
AS Tolak Masuk Wasit Piala Dunia Omar Artan, Alasannya Terlibat Organisasi Teroris
Iran Temukan Pangkalan...
Iran Temukan Pangkalan Angkatan Laut Berusia 2.000 Tahun di Selat Hormuz
Rekomendasi
Kontroversi Piala Dunia...
Kontroversi Piala Dunia 2026 dan Sikap Santai Infantino: Kenapa Dulu Coret Indonesia?
Apa Itu Siri AI Apple...
Apa Itu Siri AI Apple dan Mengapa 1,3 Miliar iPhone Tak Bisa Menjalankannya?
Mendagri Minta Tambahan,...
Mendagri Minta Tambahan, Total Pagu Anggaran 2027 Rp10 Triliun
Berita Terkini
Saksikan Sore Ini, IG...
Saksikan Sore Ini, IG Live MNC Sekuritas Bersama Danapathi AM: Di Tengah Ketidakpastian, Uang Harus Ke Mana?
Harga Emas Ambles Rp24...
Harga Emas Ambles Rp24 Ribu Jadi Rp2.689.000 per Gram, Buyback Terjun Bebas Rp92.000
IHSG Dibuka Terpeselet...
IHSG Dibuka Terpeselet ke Zona Merah, Sentuh 5.899 Ditopang Transaksi Rp1,6 Triliun
Harga BBM Nonsubsidi...
Harga BBM Nonsubsidi Mendadak Naik di Tengah Malam, DPR Bakal Panggil ESDM dan Pertamina
Harga Pertamax Tembus...
Harga Pertamax Tembus Rp16.250 per Liter, Awas! Ledakan Migrasi ke BBM Subsidi
Skenario Terburuk Pasar...
Skenario Terburuk Pasar Energi 2026: Exxon Peringatkan Harga Minyak Dunia Bakal Tembus USD160/Barel
Infografis
5 Buah Rendah Gula yang...
5 Buah Rendah Gula yang Aman untuk Diet, Tetap Manis dan Menyegarkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved